0

Apakah memang sudah tidak ada rasa malu lagi di dunia ini??? Benarkah sudah tidak ada yang namanya harga diri lagi di dunia ini???
Emm…siapa yang akan menjawabnya? Sebelum ada yang menjawabnya, ada pertanyaan lagi nih…..

Apakah benar sebuah idealisme bisa tergadaikan dengan alasan ‘dakwah’? Dakwah yang seperti apa yang sampai menggadaikan sebuah idealisme? Bahkan idealisme syariah?

Tembok-tembok syari’ah yang merupakan benteng kita dari hembusan angin-angin yang membawa bisikan-bisikan setan mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh tangan-tangan jail yang berusaha menghancurkan tembok-tembok itu.

Aduh..bahasanya mulai nyleneh nih. Maksudnya apa sih? Kenapa harus penuh kata Tanya dan penuh tanda Tanya???

Ikhwan - Akhwat, Cewek – cowok, laki-laki – perempuan, apa sih bedanya?? Hanya beda huruf kan?? Tapi ketiga pasangan lawan kata itu mempunyai arti yang sama bukan?? Artinya sama-sama lawan jenis bukan?
Sama-sama mendapat perintah yang sama dari Allah, agar menjaga pandangan antar lawan jenis kan? Sama-sama punya etika/ adab-adab berinteraksi antar lawan jenis kan?? Trus kenapa??

Sebuah fenomena yang aneh bin ngeselin bin njengkelin bin apa lagi ya?? yang jelas fenomena yang nggak pantes terjadi.
Interaksi cewek – cowok mulai sangat amat bebas (wuih..bahasane lebai). Sudah tidak lagi ada rasa malu bila bersentuhan, sudah tidak ada lagi rasa canggung jika terlihat tanpa baju (oopz...setengah berbusana kali maksudnya). Sudahkah yang bernama ’harga diri’ itu hilang dari muka bumi ini???
Bahkan di kalangan ikhwan – akhwat yang dipersepsikan orang sebagai cewek – cowok yang berbeda (entah beda dari mana tuh, padahal ikhwan – akhwat kan artinya juga cewek –cowok ya..). yah..karena sudah menjamur di dunia perkataan istilah ikhwan –akhwat yang berada di dalam tanda kutip ”Ikhwan – akhwat” jadi aku pun pake istilah itu aja ya...paham kan??
Kalau nggak paham, kujelasin dikit deh. Ikhwan – akhwat selalu diidentikkan dengan orang yang eksklusif, cewek berjilbab lebar, cowok berjanggut dan bercelana cingkrang, anak Rohis, dan ciri – ciri lain yang biasa diidentikkan dengan yang namanya ikhwan dan akhwat.

Kita kembali lagi dengan pembahasan fenomena hilangnya si ”harga diri”. Sebenarnya si ”harga diri” lagi menghilang kemana to?? Atau jangan – jangan dia hanya sedang bersembunyi?? Tapi ngapain dia sembunyi??

Ikhwan – akhwat yang dikenal sebagai ’cewek – cowok sholeh dan sholehah’ yang biasa berceramah dan mengomentari interaksi cewek – cowok ternyata sekarang pun mulai harus dikomentari.

Emang ada yang salah ya dengan ikhwan –akhwat? Kok sampai perlu dikomentari??
Emm..mungkin kalau ikhwan dan akhwat angkatan dahulu ya...cukup terjaminlah mutunya, tapi ikhwan dan akhwat jaman sekarang?? Ya jangan marah kalau aku bilang ’nggak mutu’ (Tapi ini nggak bisa digenarilisir lho. Inget!! Ada yang namanya Individual Deferences. Nggak semua ikhwan – akhwat ’nggak bermutu’ lho).

Apa sih yang mendasariku mengatakan ikhwan –akhwat jaman sekarang ’nggak mutu’ (emm..BTW kok kedengeran kasar banget ya kata ’nggak mutu’ itu, ganti istilah aja deh kuganti dengan istilah ’nggak berkualitas’ yah sama aja deh. Emmm..kurang qowy/ alias kurang kuat, kayakke itu lebih pas deh).

Penurunan – penurunan keqowiyyan ikhwan – akhwat kulihat dengan semakin cairnya interaksi ikhwan – akhwat. Cair dalam artian hampir sama dengan interaksi cewek – cowok yang sering mereka komentari. Cuma bedanya, mereka masih merasa diri mereka suci, tidak ada yang salah dengan gaya interaksi mereka, hanya saja mereka tetap menjaga agar tidak terjadi sentuhan antara ikhwan – akhwat. Berbeda dengan ikhwan – akhwat jaman dulu yang bukan hanya menjaga kulit (agar tidak bersentuhan) tapi juga menjaga mata (agar tidak terjadi tatapan yang akan ditambahin dengan tatapan – tatapan sok manisnya setan), menjaga mulut dan telinga (agar tidak terjadi penyakit hati), menjaga seluruhnya terutama menjaga hatinya agar tetap berada dalam lindungan tembok-tembok yang sudah dibuatkan oleh Allah untuk mengamankan kita dari badai hembusan angin bisikan setan yang diam – diam menghanyutkan.
Tapi sekarang?? Apakah masih ada yang buta, tuli, bisu dan pincang seperti itu??

Hayooo jawabannya apa???
Jawabannya adalah.....Masih Banyak Sekali. Kok masih banyak???
Jangan salah paham dulu, maksudnya yang banyak itu adalah orang yang buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian negatif bukan buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian positif. Maksudnya?

Jika Buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian positif adalah, buta karena tidak pernah menggunakan matanya untuk melihat hal – hal yang di larang oleh Allah, tuli dalam artian tidak pernah menggunakan telinganya untuk mendengarkan hal – hal yang tidak disukai Allah, bisu dalam artian tidak pernah mengatakan kata-kata yang dimurkai oleh Allah, dan pincang dalam artian tidak pernah melangkah ke jalan-jalan yang tidak diridhoi Allah.

Trus...jika buta, tuli, bisu, dan pincang dalam artian negatif, maksudnya apa?
Ya..benar-benar menutup mata pada hal – hal yang baik tapi membukanya untuk hal yang buruk, menutup telinga untuk suara yang disukai Allah tapi membukanya untuk yang disukai setan, menutup mulut untuk kebaikan tapi membukanya untuk keburukan, serta tidak bisa berjalan menuju jalan kebenaran tapi bisa berjalan menuju jalan ke neraka.

Emmm...to be continue dulu ya...mau ngerjain tugas kuliah dulu.

Dikirim pada 28 Juli 2010 di Akhwat Zone



Berikut ini adalah beberapa lelucon, anekdot, lawakan, atau apa pun lah itu namanya. ceritanya terilhami dari pergaulan dan aktivitas yang selama ini ane alami dan rasakan dari pergaulan sesama ikhwah. sebelumnya afwan kalo tulisan yg ini bisa bikin perut antum mules karena gak kuat nahan ketawa. hahaha...! jangan aneh dan senyam-senyum sendiri juga kalo beberapa cerita ini juga pernah antum rasakan dalam kehidupan antum sekalian lho! hohohoho... selamat menyimak!!!



BAGIAN SATU: SINGKATAN

[CERITA 1] == Gelar S2 dan S3 ==

Maraknya dakwah di kota-kota besar sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus umum, sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan kegiatan-kegiatan dakwah yang beraneka ragam. Dari mulai ceramah biasa, diskusi remaja, pemutaran film, bedah buku, bazaar sampai ke tabligh akbar, semuanya semakin menambah marak kesejukan suasana Ibukota yang sudah penuh sesak. Semua ini kemudian diikuti dengan bertambahnya kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda, baru S-1 ataupun masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan ini banyak kita temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi mereka yang benar-benar Pakar Halaqoh dan Dauroh, sedangkan MBA untuk Murobby Banyak Akal ! Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah lain yang dipakai untuk menyindir sampai dimana proses seorang ikhwan, seperti MBA dari Murobby Belum Acc , dan MBM dari Murobby Baru Mencarikan, atau kalau sudah selesai prosesnya bisa disebut MBM juga, yaitu Married By Murobby.!

Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di kalangan aktivis dakwah yang di peruntukkan bagi lulusan Timur Tengah ataupun LIPIA, yaitu Lc. Tapi gelar Lc ini ternyata sekarang banyak dipakai oleh para aktivis muda kita, tapi yang ini berarti Langsung Ceramah.Dan kabarnya pula Xanana Gusmao, Presiden Timor Lorosae juga punya gelar Lc juga, yaitu Lulusan Cipinang.


[CERITA 2] == Nama Lain Ngaji ==

Pada suatu malam Ahad, seorang Akhi yang baru memulai sejarah dakwahnya pamit pada temannya se kostnya untuk pergi ngapel ke rumah seorang teman. Teman se-kost itu yang kebetulan juga seniornya sangat khawatir dengan aktivitas anak baru tersebut. Kemudian dengan diam-diam ia mengikuti langkah sang Akhi tersebut, yang ternyata masuk ke dalam seorang rumah ustad. Dan setelah ditunggu sekitar dua jam, akhirnya sang Akhi tersebut keluar dengan wajah penuh keceriaan. Sang senior yang sudah penasaran dari tadipun langsung menginterogasinya,

" katanya ngapel, kok di rumah ustad? "

" Ya Mas, yang ini bukan ngapel pacaran, tapi ngapel singkatan dari ngaji pelan-pelan alias liqo ".

Begitulah, sesuai dengan situasi dan kondisi di suatu tempat kadang-kadang digunakan bahasa lain untuk lebih menyamarkan atau mengakrabkan aktivitas yang satu ini. Kalau di lingkungan kampus biasanya dikenal istilah Mentoring atau Asistensi, Di Yayasan Iqro club yang menangani anak-anak STM di Jakarta menyebutnya dengan DSL (Dakwah Sistem Langsung), beberapa ikhwan lain menyebutnya dengan istilah Les Privat ataupun kencan mingguan,dan ada juga yang bikin istilah keren yang sama dengan sebuah paket acara televisi di Indosiar yaitu KISS (Kisah Seputar Selebritis), tapi KISS yang ini berarti Kajian Islam Seminggu Sekali, ada juga yang menyebutnya Kajian Islam Sabtu sore, Senin Sore, Selasa Sore, atau Sabtu Siang, dan seterusnya.


[CERITA 3] == Berbeda tapi Ternyata Sama ==

Seorang Akhi di UNPAD mendadak harus pulang ke kota kecilnya di belahan utara pulau Jawa, karena ayahnya dikabarkan masuk rumahsakit. Sebuah fenomena memang kalau di sebuah kota kecil yang tidak ada kampus ternamanya biasanya tidak banyak memiliki stock ikhwan ataupun akhwat. Tapi di rumah sakit, tepatnya di bagian mushollanya, pada waktu itu dengan firasat keikhwanannya lah al-akh ini berhasil menemukan seseorang yang disangkanya seorang ikhwan pula. Tapi keraguan itu membuatnya bertanya dengan malu-malu, "Assalamualaikum wr wb, Langsung saja Mas.. antum Ikhwan khan? ". Yang ditanya sempat kaget, lalu tersenyum dan memjawab, " Apa? bakwan ! eh..ikhwan ? Maaf bukan mas, saya dulu di JT tapi sekarang saya mantep di HT, insya Allah,". Dengan agak malu karena sok tahu, akh kita ini minta ijin untuk undur diri sambil menyalahkan firasat ikhwaniyahnya yang gagal kali ini. Tapi sebelum ia beranjak, orang tadi memanggilnya kembali,

" Afwan Akhi, saya dulu memang di JT tapi ini Jamaah Tarbiyah bukan Jamaah Tabligh lho.."

" Terus kenapa sekarang masuk HT ?"

" Iya, dari dulupun saya ikut HT, Halaqoh Tarbiyah ..!"

"Oooo..sama semua ya..ternyata"





[CERITA 4] == KAMMI Ganti Nama ==.




Setiap kali Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berdemo dan melakukan long march, maka yang akan banyak terlihat adalah barisan putih panjang yang terdiri dari para ABG (Akhwat Berjilbab Gede), yang dikelilingi oleh sedikit ikhwan sebagai boarders. Dari sini jelas terlihat bagaimana perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat yang terlampau mencolok. Dan repotnya hal seperti itu berlangsung terus di demo-demo yang lain. Yang akhirnya membikin ciri khas khusus bagi demonstrasi yang dilakukan KAMMI, yang seolah-olah menggambarkan bahwa KAMMI hanya milik para akhwat. Akhirnya muncul usulan dari para ikhwan untuk mengganti nama KAMMI menjadi KAMMMI, karena alasannya sesuai sejarahnya, pertama kali pada jatuhnya orde baru tahun 1966 ada yang namanya KAMI dengan satu huruf M, kemudian disusul pada bangkitnya orde reformasi muncul KAMMI dengan dua huruf M. Maka sesuai perkembangan terakhir sekarang dimunculkan KAMMMI dengan tiga huruf M yaitu "Kesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Muslimah Indonesia".

[CERITA 5] == Simatupang dan Situmorang ==

Dua dari sepuluh karakteristik ideal seorang dai adalah Qowiyyul Jismi dan Harisun ala waqtihi. Idealnya seorang yang beraktifitas di jalan dakwah memang harus mempunyai ciri tersebut. Tapi ada cerita unik, tentang dua orang ikhwan yang kebetulan tinggal di sebuah rumah kost-kostan yang sama. Keduanya kuliah di kampus yang sama, jurusan yang sama, dan kebetulan sama-sama bergabung dalam LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang ada di kampusnya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah dari segi jam terbang dakwahnya.

Sebut saja akhi A, beliau setiap hari hampir jarang ada di kamarnya. Berangkat pagi hari habis sholat Subuh, kemudian sore pulang sebentar untuk ngambil sesuatu dan mandi, kemudian pergi lagi dan pulang sampai larut malam, itupun tidak setiap hari beliau pulang. Belum lagi kalo pas hari libur atau sedang kosong, tiba-tiba ada panggilan dakwah, maka beliau langsung pergi lagi walaupun jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Itu cerita tentang si A. Lain lagi dengan temen se kost-nya si B, beliau paling sering kelihatan di rumahnya, atau lebih tepatnya di kamarnya, atau lebih pasnya lebih sering kelihatan tidurnya. Pagi berangkat kuliah sebagaimana biasa, dan siang pulang kemudian di rumah terus sampai esoknya lagi, kecuali satu hari saja untuk aktivitas ngaji di rumah seorang ustad. Perbedaan yang sangat frontal ini konon mendapat perhatian yang cukup serius dari ikhwah lainnya yang tinggal sekontrakan dengan mereka berdua. Akhirnya, walaupun keduanya bukan dari tanah Batak, mereka sepakat memberi nama marga di belakang nama mereka yang satu Simatupang untuk akhi A, yang berarti Siang-malam tunggu panggilan karena aktivitas dakwahnya yang begitu padat. Sedangkan untuk si Akhi B diberi gelar Situmorang, yang berarti Si ikhwan tukang molor doang!"



[CERITA 6] == JAMES BOND ala Ikhwah ==


Sudah menjadi fenomena umum bagi seorang ikhwah mahasiswa yang kuliah di kota besar semacam Jakarta, bagaimana sulitnya mencari sebuah kamar kost yang layak pakai fasilitas lengkap, situasi mendukung untuk dakwah sekaligus nyaman untuk belajar, deket kampus, dan tentu saja yang paling murah, istilahnya harga mahasiswa. Maka beruntunglah, karena ternyata banyak masjid di Jakarta, yang juga deket dengan kampus yang menyediakan sebuah tempat khusus bagi satu dua mahasiswa untuk tinggal di situ sekaligus ikut berpartisipasi dalam memakmurkan masjid. Maka sebagian dari mereka ada yang menjadi petugas muadzin, ada pula yang menjadi imam tetap, ada pula yang mengajar TPA dan mengisi kajian Ibu-Ibu. Dan alhamdulillah, tidak jarang kemudian Takmir Masjid memberikan uang kompensasi bulanan sebagai pengganti waktu dan jerih payah mereka. Tapi meskipun demikian ada juga beberapa mahasiswa lain yang ikut membantu kebersihan masjid, dan berfungsi ganda sebagai petugas kebersihan masjid atau yang biasa dikenal dengan istilah marbot. Mereka - mereka yang disebutkan tadi, dengan bangga menyebut profesi ini dengan istilah James Bond, yang berarti Jaga Mesjid dan Kebon !




BAGIAN DUA: PLESETAN NASYID

[CERITA 7] == Kulihat Bunga di Taman ==

Sore hari di sebuah rumah kost para ikhwah di bilangan Jurangmangu, Tangerang. Suasana yang ada di antara para ikhwah yang sedang bersantai sangat akrab, sampai tiba-tiba seorang akhi yang baru beberapa hari pindah ke situ, ikut meramaikan suasana dengan bernasyid dari kelompok Suara Persaudaraan, Malang. Beberapa bait nasyid disambut atau diikuti para ikhwah yang lain, namun ketika si Akhi ini sampai pada sebuah bait di sebuah lagu yang ada di album Balada sebuah Danau , yang berbunyi.

" Kulihat Bunga di taman.
Indah warna-warni dan menawan.."

Mendadak seisi rumah pada ramai, sebagian senior ada yang memperingatkan langsung pada sang munsyid.

" Bernasyid boleh akhi, tapi jangan langsung menyebut nama seseorang dong. bisa timbul fitnah nantinya!"

Si anak baru ini, sampai di sini masih belum menyadari kekeliurannya. Usut punya usut, ternyata di organisasi remaja Masjid dekat perumahan tersebut ada seorang akhwat aktivis yang namanya juga memang " Bunga " !


[CERITA 8] == Aku Anak Sholeh ==

Plesetan dari lagu " Aku Anak Sholeh " nya Harmoni Voice, STT Telkom Bandung.

Aku Ingin Nikah
Dengan Mahar Mudah
Tidak susah- susah
Rukuh dan Sajadah

Istri Solihah..
Harta yang berkah..
Walau ku sudah nikah..
Tetap berdakwah..



[CERITA 9] == Kembali by Izzis ==

Bait-bait Nasyid yang didendangkan oleh Munsyid Izzatul Islam mempunyai ciri khas perjuangan dan semangat yang menyala-menyala. Tapi bukan ikhwah namanya kalau nggak punya kreasi (baca: iseng) lain dengan lagu-lagu tersebut. Tentu saja tujuannya untuk "memprovokasi" ikhwah yang lain (hehehe...). Lihat aja perbandingan lagu asli dan plesetannya di bawah ini, yang diambil dari album "Kembali"

[versi asli]:

Berkobar tinggi panaskan bumi
Membakar ladang dan rumah kami
Darah syuhada mengalir suburkan negri
Tiada kata lagi... kami harus kembali

[versi plesetan]:

Berkobar tinggi panaskan hati
Datang tawaran dari murobbi
Foto-foto akhwat ada dihadapan kami
Tiada kata lagi..aku pilih yang ini!




BAGIAN TIGA: TA’ARUF

[CERITA 10] == Masih Mau Sekolah ==

Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi sang Murobbi. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap menikah. Lho, apa bedanya?

Ingin menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya ia menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti - untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya. Bisa jadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika ingin menikah di sini berarti: ingin menikahi ukhti A, B atau C. Yang jenis ini bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, kurang elegan.

Lalu bagaimana dengan siap menikah? Siap menikah bagi seorang akhi berarti kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan: "yang penting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana juga yang harus membimbingnya". Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap mental dalam menikah.

Nah kembali ke cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang murobbi yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat. Betapa tidak? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang dijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan visi untuk dakwah?

Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobbi. Dari mulai tukar biodata sampai ta’aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang murobbi mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang akhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang murrobbi: "Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu.."

Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati, mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan sampai proses taaruf?

Sang murrobbi pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan ini?

Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah. Sang murrobbi pun kembali dengan senang hati membantu sang akhi. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali terulang. Masih dengan alasan yang sama: sang akhwat masih mau melanjutkan sekolah.

Pusing kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali untuk berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya? Atau ada kesalahan kah saat taaruf kemarin? Ah, rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah.

Atau masalah penampilan fisik? Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang prinsip di jaman ini? Sang akhi bingung, ia benar-benar belum menemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya.

Sang murobbi tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murobbi pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat. Maka setelah mengadakan briefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik sang murobbi pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama dibaca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan agak lama.

Sang Murobbi yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan sang akhi untuk meneruskan proses.

"Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan?"

Sang akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya. Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali, sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan mengganggu.

"Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan prosesnya?"

Pertanyaan sang murobbi menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Ia menunduk agak lama.

Sang akhi merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik!! Kriteria fisik, kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu kontemporer. Selalu saja ada, di mana saja dan kapan saja.

"Gimana akhi, bisa dijawab sekarang?? "

Dengan sedikit berdehem, sang akhi menjawab,

"Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya "masih mau melanjutkan sekolah" saja ustad ... "

Lemes tubuh sang murrobbi. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia berkata: Dasar aktifis jaman sekarang, masih teguh mempertahankan kriteria fisik!


[CERITA 11] == Ta�aruf yang Unik ==


Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk di sebelah murobbi, sementara agak jauh di depannya sang akhwat ditemani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobbi berbisik pelan pada mad’unya yang malu-malu ini,

"Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum?"

"Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?"

Murobbinya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana antum! yang itu istri saya!"


[CERITA 12] == Belum Menikah ==

Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan provokasi yang datang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh dien ini. Apalagi jika ia juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka setiap pertemuan mingguan pasti ada sindiran-sindiran kecil dari para mad’unya yang rata-rata juga belum menikah. Sebenarnya sang murobbi ini nggak enak dan takut juga kalau status bujangannya ini menghalangi anak buahnya untuk segera menikah.

Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan, setelah sekian lama para mad’unya menanyakan masalah yang satu itu, sang murobbipun berpesan singkat di hadapan para ikhwah di hadapannya,

" Ikhwan sekalian, untuk masalah pernikahan.. jangan jadikan status ana sebagai penghalang kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contoh atau tauladan...! "

"Haaah...", Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong keheranan.


[CERITA 13] == Kriteria ==

Seorang Akhi ditanya sang Murobbi tentang kriteria seorang akhwat yang diinginkannya. Setelah beberapa saat berpikir, sang Akhi menjawab dengan malu-malu,

"Yang pertama Ustad, dia harus seorang yang cukup cantik."

"Astaghfirullah Akhi, bukannya Rasulullah menyuruh kita untuk mengutamakan agamanya dulu?", balas sang murobbi.

"Yang itu sih bukan masalah ustad?"

"Bukan masalah bagaimana akhi, ada hadist nya lho...", sang murobbi menambahkan.

"Khan yang namanya akhwat pasti berjilbab gede, berarti semuanya kita anggap sudah punya pemahaman agama yang cukup baik, sekarang tinggal kriteria selanjutnya yaitu yang cantik."

" Antum bisa aja cari alasan!", murobbi pun langsung lemes mendengar alasan sang Akhi.


[CERITA 14] == Tinggal Satu ==

Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negeri ditanya oleh ustadnya mengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealisme sebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskan hampir lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnya tersebut. Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yang pertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda, berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikian seterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwa tidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sang Ikhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah diproses sekian minggu ternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan mengurangi satu lagi dari kriterianya menjadi 8. Dan setelah ditunggu sekian lama hasilnya tetap nihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kali gagal sang ikhwan mengurangi satu kriteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang Ikhwan akhirnya menemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya tinggal satu! Kriteria apakah itu? ya apalagi kalo bukan dia harus akhwat!


[CERITA 15] == Penyebab Nggak Nikah-Nikah ==

Lagi-lagi seorang Ikhwah diinterogarsi oleh murobbinya tentang calon akhwat yang diinginkannya. Ikhwan yang satu ini tampaknya sudah kena blacklist sama murobbinya karena selalu menolak memberi kriteria ketika ditanya.

" Akhi, ini yang terakhir kalinya, kira-kira seperti apa akhwat yang antum inginkan menjadi pendamping antum dalam berdakwah?", tanya murobbi dengan nada pasrah.

"Sudah deh ustad, ane nggak banyak minta, yang asal-asalan aja", jawab sang ikhwan.

Sang Murobbi pun bengong dibuatnya, "Asal-asalan bagaimana maksud antum?
Antum kan punya hak untuk mengajukan kriteria."

"Maksud ane, asal sholihah, asal cantik, asal kaya, asal hafal Qur’an, asal pintar, dan asal-asalan yang lainnya."

"Pantes aja antum nggak nikah-nikah!", jawab Murobbi dengan penuh keheranan.




BAGIAN EMPAT: AMANAH

[CERITA 16] == Amanah dan Aminah ==

Ini cerita lagi tentang seorang akhi dan berbagai permasalahannya. Ikhwan yang satu ini memang dikenal dalam kelompoknya sebagai seorang aktivis kelas berat di kampusnya. Namanya pun tercatat hampir di setiap struktur organisasi intra atau ekstra kampus yang kredibel baik yang umum maupun yang berbau dakwah. Dan mungkin juga karena kesibukannya tersebut beliau belum berani untuk menyempurnakan separuh diennya walaupun sudah beberapa kali di tawari oleh sang ustad. Dan suatu kali akhi kita ini datang terlambat dalam pertemuan rutin mingguannya di rumah ustad, suatu hal yang jarang terjadi karena sang akhi termasuk yang selalu "harisun ala waqtihi". Sang Ustadpun bertanya penuh selidik,

"Baru kali ini antum terlambat, ada masalah apa di kampus, atau di DPC mungkin?"

"Ah enggak ustad, afwan nih, biasa anak-anak LDK bikin dauroh rekrumen dan tadi habis Ashar ane diamanahi untuk ngisi, dan afwan juga ustad, nanti mungkin ane izin pulang lebih dulu, karena ada amanah juga ngisi anak-anak Remaja Masjid di dekat kost ane."

"Akhi, antum tahu nggak kelemahan antum selama ini...?"

"Enggak tahu Ustad".

"Antum ini terlalu punya banyak amanah tapi tidak satupun Aminah yang antum punya, jadinya ya seperti itu lah..."

Al Akh yang satu inipun tertunduk tersipu-sipu, sudah bujangan diledek lagi. Sementara para ikhwan yang lain yang semuanya sudah berkeluarga, tertawa ringan penuh kemenangan.


[CERITA 17] == Wasiat Tambahan Imam Al-Banna ==

Percepatan dan perluasan dakwah yang melanda Indonesia sejak 4 tahun terakhir ini menimbulkan banyak perubahan dan tuntutan-tuntutan bagi seorang da’i. Pekerjaan-pekerjaan dakwah yang kian beragam mulai menjangkau semua wilayah dakwah, dari mulai pendidikan, ekonomi sampai politik. Dan semua itu melahirkan konsekuensi bagi seorang da’i untuk mampu mengatur waktunya yang terasa kian sempit dipenuhi beban-beban dakwah. Ada kalanya seorang aktifis harus pergi pagi dan pulang sampai larut malam untuk sebuah kegiatan dakwah. Fenomena yang terjadi kemudian adalah banyaknya aktivis dakwah kita yang merubah atau mengganti jam tidurnya. Sebagian dari ikhwah kitapun terpaksa terbiasa tidur setelah sholat Subuh, sebelum memulai pekerjaan barunya. Dan ini bisa merupakan masalah besar ketika menjadi sebuah kebiasaan bagi seorang aktivis. Akhirnya dari kenyataan tersebut muncul sebuah anekdot yang pernah dilontarkan seorang ikhwan,
.
"Kalau saja Imam Hasan Al-Banna mengetahui keadaan ikhwah kita sekarang, mungkin beliau akan menambahkan sebuah wasiat lagi dalam sepuluh wasiatnya yang terdahulu, yaitu wasiat untuk tidak tidur lagi setelah sholat Shubuh!"




BAGIAN LIMA: MENIKAH

[CERITA 18] == Fatwa Menikah ==

Suatu sore di akhir Ramadhan, beberapa orang ikhwah tampak sedang bercengkrama di teras masjid Nurul Ilmi, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Mereka semua adalah para peserta I’tikaf Ramadhan yang datang dari tempat yang berbeda-beda. Dan mereka kini terlibat pembicaraan serius tentang kegiatan dakwah di jurusannya masing-masing. Beberapa saat kemudian datang seorang Ikhwah dengan tergesa-gesa, membawa suatu kabar.

"Assalamualaikum wr wb, Ikhwan semua, antum sudah dengar belum ada fatwa terbaru dari Dewan Syariah, baru keluar pagi tadi lho!"

Dengan serempak mereka menjawab,

"Waalaikum salam, fatwa terbaru tentang apa akhi?"

"Tentang Menikah!"

"Menikah? apa saja isi fatwa tersebut?"

"Isinya cuma satu pasal tapi penting, bahwa mulai sekarang seorang Ikhwan tidak boleh menikah dengan akhwat satu kampus."

Semua ikhwah yang mendengar terkejut, dan saling memberi komentar satu sama lain.

"Apa alasannya akhi, khan tidak melanggar syar’i?"

"Kok bisa begitu, lalu bagaimana sama yang sudah berproses, langsung dibatalkan ya?"

"Ane kira ini untuk kepentingan perluasan dakwah juga"

"Kalau ane sih milih sami’na wa a’thona saja"

Setelah beberapa saat terjadi tukar pendapat satu sama lain, akhirnya sang Akhi yang datang bawa kabar tersebut dengan mimik serius menjelaskan,

"Tenang Akhi... fatwa tersebut memang harus didukung dan ada dalilnya kok, bukankah Syariah Islam membatasi seorang Ikhwan untuk menikah hanya sampai dengan empat orang akhwat, maka bagaimana mungkin seorang ikhwah mau menikah dengan �akhwat satu kampus yang jumlahnya ratusan...!"


[CERITA 19] == Kartu Undangan Walimah ==

Pernikahan para aktivis dakwah memang selalu unik, banyak kisah dan ibroh yang kita dapatkan. Semuanya menjadi hal yang selalu diperbincangkan oleh masyarakat awam. Dari mulai hijab dan pemisahan tempat duduk para tamu undangan, nasyid yang disajikan, sampai disembunyikannya pengantin perempuan. Hal-hal seperti itu kadang membikin banyak pertanyaan besar di pandangan masyarakat awam, bahkan ada yang sampai menuduh sebagai Islam Jamaah, Islam fundamentalis, Aliran baru dan lain sebagainya. Sampai akhirnya ada juga Ikhwah yang kreatif dengan menuliskan pesan singkat di Kartu Undangan Walimah untuk mengantisipasi hal ini. Mungkin di Kartu Undangan Resepsi yang umum sering kita temui tulisan sebagai berikut:

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, alangkah baiknya jika tali asih atau cinderamata yang akan diberikan tidak dalam bentuk barang."

Maka di Kartu Undangan Walimah ala Ikhwan dibuat sedikit perubahan untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti berikut:

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, Resepsi Pernikahan ini akan dilaksanakan sesuai Adab Islam dengan pemisahan tempat duduk antara tamu pria dan wanita."




BAGIAN ENAM: POLIGAMI

[CERITA 20] == Istri yang Cerdik ==

Seorang Akhi baru saja melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorang akhwat yang sama-sama berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilalui dengan penuh ceria, Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma’tsurat sama-sama, tabligh akbar bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukan sama-sama. Suatu ketika setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakan Poligami, pasangan ini terlibat dalam pembicaraan serius,

"Bagaimana Mi, pendapat Ummi tentang poligami secara umum?"

"Abi, secara umum poligami tidak ada nilai buruknya sebagaimana yang digemborkan banyak orang, bahkan itu merupakan solusi satu-satunya lho."

"solusi bagaimana maksud Ummi?"

"Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat, di Bandung aja lebih dari 1:7, kalau semuanya dapat satu-satu, maka bagaimana nasib yang tiga lainnya?"

"Kalo Ummi sudah paham, bagaimana kalo kita yang memulai?"

"Maksud Abi bagaimana?"

"Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya!"

"Apaaa..! abi mau poligami???"

"Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat ini juga sunnah Nabi Muhammad SAW lho.."

"Wah! kalo begitu abi salah menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasul berpoligami setelah istri pertamanya Khadijah ra, meninggal.

Nah! Jadi abi boleh menikah poligami sampai empat pun boleh, asal setelah Ummi, istri pertama Abi ini, meninggal, OK ?"

"Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajarin...?", balas sang abi.

Sang istri pun tersenyum manja penuh kemenangan.



[CERITA 21] == Perbandingan Jumlah ==

Setiap kali tema Poligami dibicarakan, pasti dihubungkan dengan perbandingan jumlah kader ikhwan dan akhwat. Masalah keterpautan yang cukup jauh ini memang cenderung mengkhawatirkan banyak kalangan. Dan juga perbandingan di suatu daerah tidak sama dengan daerah yang lain. Di Bandung ada yang mengatakan 1:7, sumber lain menyebutkan angka 1:13, sementara di Solo, Malang dan kota-kota mahasiswa yang lainnya pun menyebutkan angka perbandingan yang hampir sama. Akan tetapi di daerah pinggiran ataupun luar jawa yang terjadi mungkin sebaliknya, jumlah ikhwan lebih banyak dari jumlah akhwatnya. Memang secara realita dapat kita lihat secara jelas ketika ada acara aksi-aksi demo dan lain sebagainya, bahwa jumlah peserta akhwat pasti cenderung lebih banyak, bahkan kadang mencolok. Tapi realita seperti ini kadang masih bisa dibantah. Salah seorang ikhwan kita mencoba menganalisa hal ini dengan lebih obyektif,

"Adalah suatu kekeliruan ketika kita melebih-lebihkan perbandingan jumlah kader ikhwan dan akhwat, hanya dengan melihat sekilas dalam suatu acara-acara demonstrasi dan sebagainya. Banyak perhitungan yang mengatakan jumlah akhwat jauh lebih banyak karena secara performance, sosok akhwat memang lebih mudah dihitung dan dideteksi dengan melihat Jilbab Panjangnya, dan deteksi ini tidak berlaku bagi kalangan ikhwan. Kalau kita menghitung jumlah ikhwan hanya dengan melihat baju kokonya, atau jenggot tipisnya, maka kita hanya akan mendapatkan jumlah yang sangat kecil. Performance seorang ikhwan tidak bisa dibatasi dengan baju koko dan jenggot saja. Berapa banyak sosok ikhwan yang kita kenal adalah orang-orang yang berpenampilan paling sporty, paling modis, funky dan ada juga yang berambut panjang. Kalau saja kita menggunakan hitungan dengan memperhatikan sisi yang lebih luas seperti ini, kemungkinan besar akan kita dapatkan perbandingan jumlah yang lebih seimbang antara ikhwan dan akhwat!!!"




Dikirim pada 28 Juli 2010 di Ikhwan Zone


Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti bergerak, karena diam dapat mematikan.

“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu terbatas? Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?” Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku. Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah menikahi akhwat yang lebih muda. Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya. Dungdungdungdung…..

Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran. Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak generasi baru jundullah. That’s the point, namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner dakwahku…

Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis dari pernikahan para aktivis.

Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.

Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi. Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina, kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan? Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya, menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya. Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang, jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini? Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).

Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat. Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja. Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan pertemuan dengan-Nya.

Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan. Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari apa sih?).

Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat. Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak). Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita, tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa membuktikannya alias konsulen teoritis saja).

Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i sebelum yang lainnya ).

Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan. Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja. Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya, meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.

Tapi semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat, dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan yang saling menyemangati antar para umahat untuk mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.

Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa, sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua orang yang dicintanya…. Demi izzah Islam.

Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena seringkali ialah musuh terbesar kita.

“ Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).

Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya. Wallahualam bishawab.



Dikirim pada 28 Juli 2010 di Ikhwan Zone

Bismillah….
Kasus 1


“Aku mencintaimu karena Allah”
Jika seorang ukhti fillah mengirim sms dengan kata-kata seperti di atas, bagaimana respon “kita”? (karena yang nulis akhwat, jadi maksud “kita”= akhowat). Dengan cepat, jemari “kita” akan memencet tombol-tombol di HP dan mengirim balasan:

“I love u too coz Allah”
atau
“Uhibbuki fillah aidhon”
atau
“Ana juga mencintaimu ukhti sayang, fillah…lillah…”
atau
“Ahabbakilladzi ahbabtani lahu”
Nah, gimana kalo Saudara (baca: ikhwan) kita yang menerima sms “4 kata ajaib” itu dari sang akhwat? Kemungkinan yang bakal terjadi:
Qoola ikhwan:

“Maksudnya apa neh?”
atau
“Salah kirim kali yah?”
atau
“Hey ukhti, ada apa ini?
Intinya, BINGUNG!
Atau mungkin ada ikhwan yang berani bales: “Ane juga mencintai anti, karena Allah..” (Whuaaa, paraaah!!)
Sama bingungnya dengan sms pertama, ikhwan lain menerima email yang bernada hampir sama (atau mungkin lebih ekstrim?)
Begini bunyinya:

“Akhi, selamatkan ana. Ana mohon, segera jemput ana.”
Kira-kira bagaimana raut muka si ikhwan?
Kasus 2
Seorang ikhwan dinonaktifkan dari struktur dakwah kampus oleh qiyadah dan MRnya. Bukan berarti berhenti berdakwah, tapi ia lebih difokuskan untuk membantu kepengurusan dari balik layar. Apa sebab? Ternyata, hal itu dilakukan untuk meminimalisir VMJ yang mewabah di kampusnya. Apakah ikhwan ini bermasalah? Tidak. Tapi bisa dibilang ikhwan inilah yang mengundang masalah. Karena, tanpa ia sadari dan tanpa ia kehendaki, banyak akhowat yang simpati, jatuh hati dan mengungkapkan perasaannya padanya.
Akhirnya, diambillah kebijakan untuk menjauhkan si ikhwan dari segala macam bentuk kegiatan yang mengharuskan ia berinteraksi/berkoordinasi dengan akhwat manapun! Yah, si ikhwan memang diberi kelebihan oleh Allah swt. baik dari sisi jamalihi, nasabihi, maalihi, dan yang terpenting dienihi (sholeh, aktivis dakwah tulen). But, yakinlah, no body’s perfect! (Kebetulan ane kenal dengan ikhwannya, jadi sungguh, ane tidak mengada-ada. Yang jelas gak sekampus dengan ana)
Kasus 3
Suatu hari, seorang akhwat mengungkapkan kegundahannya pada ana. Berikut percakapannya (telah lulus sensor!):
Akhwat: “Ukh, ane sedih banget”
Ane: “Kenapa?”
Akhwat: “Jujur, ane mengagumi seorang ikhwan. Bahkan ane ngafans sama dia. Wajar kan, ukh?”
Ane: “Hm…” Baru mau milih diksi dan mikir bentar, si ukhti dah keburu menyambar
Akhwat: “Tapi, ane gak bener-bener cinta koq sama dia”
Ane: ekpresi kaget. Nih mata melebar, mulut membundar. “Hah? Maksud anti gak bener-bener cinta?”
Akhwat: “Dulu sih sempet cinta ukh, tapi simpati (simpan dalem hati-pen). Bahkan sempet terpikir untuk mengajaknya ta’aruf”
Ane: Mata semakin melebar (bukan, lebih tepatnya, mau keluar). “Ta..tapi…Cuma sempat terpikir aja kan ukh?”
Akhwat: Iya, karena tu ikhwan dah keburu merit”
Ane: fyuuuh…lega! sambil ngelus dada.
Akhwat: “Makanya sekarang ane sedih banget ukh”
Ane: “Ukhti, jodoh itu gak mungkin ketuker dan gak bakalan kehabisan stok.” (ciyeeeh, gaya! Tumben ane ngeluarin kata2 (sok) bijak tentang jodoh)
Akhwat: “Iya sih ukh. Yang ane sesalkan, tu ikhwan ma akhwatnya nikah pake jalur swasta. Emang sih dua2nya sama2 aktivis tulen, tapi temen2 ikhwah pada kecewa dan gak habis pikir, karena kabarnya CBSA (Cinta Bersemi Saat Aktif-pen), mereka kan 1 organisasi. Nikahnya backstreet lagi. Koq bisa ya ukh? Padahal ikhwan itu haroky banget.”
Ane: Mendengarkan dengan seksama, lalu (lagi2 sok) berpetuah dengan nada yang diberat-beratkan, “Yaah, bisa aja. Ikhwan-akhwat kan juga manusia.”
Akhwat: Narik nafas dalam-dalam, tangan ditopangkan didagu, muka ditekuk, pandangan lurus ke depan, menerawang….
Ane: “Seharusnya anti bersyukur ukh. Allah masih menjaga anti dari cara-cara yang kurang berkah. Berarti, dia bukan yang terbaik buat anti.”
Akhwat: melonjak seketika. Sadar dari lamunannya. “Iya ukh ya!” lalu menepuk bahu ana agak keras.
Ane: “Aduh!” kaget.
Akhwat: “koq ane sedih? Seharusnya ane bahagia dong! Karena ternyata ane gak jadi nembak dia duluan. Karena….pasti ditolak! Dia kan dah VMJ ma tu akhwat. Ya Allah… Alhamdulillah…” sambil mengusap wajahnya pake tangan.
Ane: “Hahh?” heran binti bingung. Nyengir onta, trus geleng-geleng kepala seraya berkata “Akhwat yang aneh….”
-TAMAT-
Udah ah, kalo semua kasus diungkap, bakalan panjang nih tulisan, dan pembaca pasti bakalan bosan. ‘afwan…

********
Bismillah…(lagi)
Sebelumnya, sorry jiddan sejiddan jiddannya karena ana harus menyampaikan hal ini (yang mau protes dan mengkritik ane nulis topik beginian, tafadhol(i)…ane siap nerima). Tapi, ane benar-benar harus menuliskannya, karena kata Nabi “Ballighu ‘anniy walaw aayah”, dan “Qulil haqqo walaw kaana murron”
Fenomena di atas bukan cerita fiktif dan isapan jempol belaka, tapi sudah menjadi realita yang terjadi di kalangan aktivis dakwah. Sama halnya dengan “ikhwan punya inceran”, ternyata kasus “akhwat nembak duluan” seringkali terjadi di lapangan. Salahkah? Tak ada satupun dalil yang melarangnya. Boleh-boleh saja. Sah-sah saja. Bunda khadijah juga melakukannya (tapi, beliau menyampaikannya lewat perantara), bahkan ada wanita Arab yang berani mengajukan diri langsung untuk dinikahi oleh Rasulullah saw. Simaklah hadist berikut:
Anas ibnu Malik, Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
Ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia menawarkan dirinya kepada Rasulullah “Apakah engkau membutuhkan diriku?”. Anak perempuan Anas hadir dan mendengar kata-kata wanita itu, lalu berkata ”Alangkah memalukan dan betapa buruknya”. Mendengar itu, sang ayah (Anas ibnu Malik) menyahut ”Dia jauh lebih baik darimu nak. Wanita itu mencintai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya kepada beliau” (HR Al Bukhari).
Apakah lantas Rasul melarang dan menyalahkan cara yang dipakai wanita itu? Tidak. Beliau maklum dan mafhum.
Sebenarnya ane juga kurang mengerti mengapa akhwat dengan PeDenya to the point langsung pada si ikhwan tentang perasaannya dan berani mengajukan proposalnya langsung pada orangnya. Apa takut si dia keburu diambil orang? Tenang ukhti, jodoh gak bakalan ketuker dan gak ada ceritanya kehabisan stok. Jika melihat kasus yang terjadi di jaman Rasulullah, ane rasa sangat wajar! Beliau adalah Rasulullah, makhluq yang paling dicintai oleh seluruh umat muslim. Tapi jika hal itu terjadi saat ini, apakah tak ada cara lain yang lebih ahsan untuk mengungkapkannya? Misalnya dengan perantara orang ketiga (Bisa orang tua, atau orang-orang sholeh yang dipercaya). Bunda Khadijah saja menggunakan perantara saat mengungkapkan perasaannya.
Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Akhwat Sholihah bak mutiara di dasar laut, tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Di dalam cangkangnya dia senang berada, menjaga diri dan tak mudah digoda. Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya. Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya.
Ukhti, engkau begitu berharga. Adalah sebuah fitrah dalam hidup, sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini diletakkan pada tempat yang sesuai. Mutiara yang berkualitas akan terjaga dengan rapi pada cangkang tiram yang kokoh dan kuat, perhiasan mahal, biasanya akan dibungkus dan diletakkan pada kotak dan ruang yang aman, begitu pula brangkas yang kuat diperlukan buat menyimpan surat berharga, atau ruang terbaik dari sebuah show room digunakan untuk meletakkan mobil yang termahal.
Ukhti, jagalah akhlak dan perangaimu, hiasilah dengan selalu berzikir kepada Allah, dan bertuturlah yang baik atau diam, jaga hijabmu yang selama ini engkau jauhi atau bahkan khilaf dalam penjagaannya, jangan sampai engkau memamerkan anugerah keindahanmu kepada orang lain, karena manusia akan merendahkanmu.
Jaga hijab, maka kau akan terjaga dari fitnah.

Yakinlah Allah akan menjagamu selama engkau berusaha menjaga diri, menjaga lisan dan pandangan mu, kepada sesuatu yang tidak halal untuk kau pandang. Kecantikan seorang akhwat akan lebih berharga bila diukur dengan ketaatan dia kepada Rabb-nya.

Redupnya penjagaan hijab, diantaranya dipengaruhi oleh hal-hal berikut. Semoga bisa menjadi bahan muhasabah untuk kita semua, sebagai pengemban dakwah.



1. Pandangan, anak panah iblis
“Hati-hati dengan mata, karena cinta itu dari mata turun ke hati”. Hm…betul juga. Makanya, GB (Ghodul Bashor) dooong!! Karenanya Rasulullah memperingatkan Ali bin Abi Thalib dengan perkataannya: “Wahai Ali, janganlah kamu mengikuti pandangan dengan pandangan (berikutnya). Sesungguhnya pandangan pertama halal bagimu, dan pandangan berikutnya tidak halal bagimu.” (HR. Tirmidzi)
Dari Ummi Salamah r.a., “sesungguhnya Rasulullah saw dahulu tidak suka apabila ada perempuan melihat kaum laki-laki sebagaimana beliau juga tidak suka kepada laki-laki yang melihat kaum perempuan.” (HR. Thabrani)
Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”
Masih belum mau GB juga?
Kali ini Allah ‘Azza Wa Jalla yang memerintahkan kita dalam firmanNya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka manampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.”…… (An-Nur: 30-31)
Hati-hati!
2. Suara dan Diksi
Interaksi, komunikasi dan koordinasi tak dapat dihindari oleh ikhwan-akhwat sebagai partner dakwah. Dalam menggunakan bahasa lisan, suara manjadi hal yang harus diperhatikan. Allah telah memperingatkan wanita muslimah untuk tidak memelankan suaranya saat berbicara dengan laki-laki “Maka janganlah kamu tunduk (pelan) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al Ahzab: 32)
Ulama kemudian menjelaskan, “Allah telah memerintahkan mereka (kaum perempuan) agar kata-kata mereka da;am berbicara itu jelas dan terperinci, dan tidak dengan cara yang membuat hati terikat terhadap keindahannya sebagaimana yang terjadi pada dosen-dosen perempuan yang berbicara dengan laki-laki. Berbicara seperti itulah yang membuat hati pendengarnya merasa tertarik. Berbicara yang lunak dan halus seperti itulah yang membuat orang-orang yang hatinya sakit menjadi ingin berbuat dosa.”
Selain suara, diksi (pemilihan kata) dan alasan berbicara harus jelas! Kalo gak ada sebab dan alasan yang jelas, pembicaraan akan ngelantur ke mana-mana. Kalo udah ga ada hal urgen yang perlu dibahas, segera hentikan komunikasi, karena celah itu akan dimanfaatkan oleh syetan dan kroni-kroninya untuk menyelipkan kata-kata yang dapat menjerumuskan dan merusak hati.
Persoalan diksi yang tepat dan tegas serta adanya alasan yang jelas ini tidak hanya berlaku dalam ragam bahasa lisan, tapi juga bahasa tulis (sms, email, chat, dll). Susah memang, tapi pasti bisa! Semoga istiqomah!
3. Krisis ukhuwah antar sesama
Kalo ta’liful quluub sesama akhwat (sesama ikhwan) kurang dibina, maka ukhuwah sesama akhwat (sesama ikhwan) akan merenggang. Antara sesama seolah tak ada lagi kepedulian, minim kepercayaan. Akibatnya, ukhuwah lintas gender lebih erat. Akhwat lebih suka curhat ke ikhwan, ikhwan pun gak segan-segan menceritakan masalah pribadinya ke akhwat. Ada yang bilang Cuma sahabatan (emang ada?), ada yang nganggep kakak-adek or adek-mbak (cuma nganggep, aslinya nggak), parahnya ada yang ngaku kalo mereka sedang menjalani Hubungan Tanpa Status (Whuuuaaa, gaswat!!!). Na’udzubillah….
4. Smile ^____^
Senyum tanda mesra/ senyum tanda sayang/ senyuman sedekah yang paling mudah/ senyum di waktu susah tanda kesabaran/ senyuman itu tanda keimanan
Hmm….masih inget nasyid yang dibawakan Raihan di atas? Senyuman memang sedekah yang paling mudah dan murah. Senyum akan bermakna positif pada orang yang tepat, pada saat yang tepat dan dalam durasi waktu yang tepat pula. Namun maknanya akan terasa berbeda jika senyuman itu diberikan pada lawan jenis dengan tatapan mata yang penuh arti dan frekuensi yang cukup sering. Terutama senyummu ukhti fillah, hati-hatilah…Apalagi bagi kalian (akhwat) yang dianugerahi wajah semanis gula…(hhmmm….). Kita mungkin gak menyadari dan merasa biasa2 aja dengan senyuman kita, apalagi sebagai akhwat qta harus bisa bersikap lembut dan ramah pada sodara yang qta jumpai. Tetapi senyuman yang salah penempatan atau salah sasaran malah bisa membawa fitnah dan membawa “malapetaka”. So, waspadalah..! waspadalah…!
5. Kurang kontrol
Kurangnya monitoring dari pihak MR, MS, dan qiyadah di dakwah sekolah/kampus bisa menyebabkan mad’u/kader berbuat sekendak hatinya (apa yang menurutnya benar). Sayangnya, ketika kekhilafan itu diketahui MR, MS, dan qiyadah, yang ada hanya kritikan-kritikan dan hujan teguran tanpa ada solusi yang menentramkan. Apalagi jika mereka yang harusnya menjadi sosok teladan malah memberi contoh yang gak ahsan, akibatnya kader menganggap hal itu benar dan boleh dilakukan.
Untuk MR, mungkin peran Ummi/Abi lebih dibutuhkan. Ada kader yang mengeluh, sekarang MR hanya menjalankan 1 peran, sebagai pemimpin/panglima, karena mad’u/mutarobbi hanya mendapat ta’limat-ta’limat saja, harus ke sini, harus ke situ, harus begini, harus begitu. Sedang peran Ummi/Abi, Syaikh, dan Ustadz/ah semakin berkurang (karena ada sebagian halaqoh yang mengharuskan mad’u untuk menyampaikan materi sendiri secara bergiliran setiap pekannya. Ane kurang setuju dengan metode ini. Dengan alasan: 1) mad’u mencari bahan materi dari media yang kurang ia ketahui kebenarannya, ex: browsing2 di internet, luas banget kan? Akhirnya, banyak dijumpai kasus kader yang kebingungan karena sumber yang digunakan bukan yang dimaksud MR atau bahkan menyimpang. 2) Dalam fiqhud dakwah kaidah no 10 jelas disebutkan “Murid Guru, bukan murid buku!” Bergurulah pada akarnya, bukan dahannya). ‘Afwan pembahasan jadi keluar jalur, tapi ane lega karena sudah tersampaikan. Sekali lagi ‘afwan jika ada yang tersinggung.

Back to topic





Akhwat Sholihah, hijabnya terpelihara
Akhwat Sholihah, tutur katanya terjaga
Akhwat Sholihah, akhlaknya mulia
Akhwat Sholihah, engkaulah perhiasan terindah
Akhwat Sholihah, Allah-lah puncak segala cintanya
Jagalah Allah, maka Alllah akan menjagamu
Sebenarnya ane menulis hal ini karena sebel (banget) sama seorang akhwat yang kasusnya lebih parah dari ketiga kasus di atas. Ane cuma ingin berpesan pada tu akhwat (pantes gak ya disebut akhwat? ‘afwan):
“Ukhti, jika anti memang (sangat) mencintai ikhwan itu (duh, gak sudi ane nulisnya), pakailah cara-cara yang ahsan dan berkah jika ingin mengajaknya menikah. Bukan dengan cara “murahan” seperti itu! (‘afwan lagi). Dan ketika anti tahu ikhwan itu menolak karena telah berproses dengan akhwat lain, janganlah anti berusaha untuk memisahkan keduanya dengan segala macam cara (seperti yang anti bilang). Sungguh, itu bukan ciri akhwat sholihah. Astaghfirullah ukhti, di mana IZZAHmu? Di mana Al Haya’ yang menjadi sebagian dari imanmu? Lalu apa bedanya akhwat dengan cewek ‘ammah?”
Ya Allah, di jaman apa aku hidup? Sungguh aku merindukan “mereka yang dulu”. Jika aku harus memegang idealisme di tengah realitas yang terjadi sekarang, semoga Engkau memberikan kekuatan agar idealisme itu bisa kugenggam sekuat-kuatnya, meski mereka menganggapku “orang aneh”. Tapi aku bangga, menjadi GRURABA’
Ghurabaa’ wa li ghairillaahi laa nahnil jibaa
Ghurabaa’ war tadhainaa haa syi’aaran lil hayaa
Inta sal ‘anna fa inna laa nubaali biththughaa
Nahnu jundullaahi dawman darbunaa darbul-ubaa
Lan nubaali bil quyuud, bal sanamdhii lil khuluud
Fal nujaahid wa nunaadhil wa nuqaatil min jadiid
Ghurabaa’ hakadzal ahraaru fii dunya-al ‘abiid
Kam tadzaakarnaa zamaanan yawma kunna su’adaa`
Bi kitaabillaahi nahfuzh-hu shabaahan wa masaa`
Wallohu ta’aalaa a’lamu bish-showaab
Semoga Istiqomah!!!!
Sebuah sms masuk ke HP ane, lagi-lagi dari no asing. Ah, gak penting siapa pengirimnya, yang penting isinya…Semoga bisa menjadi bahan perenungan untuk ukhti fillah di manapun berada….
“BL kw sdg mNnggu ssOrg u/mJLni kHdpn mNju rdhoNYA, fashbirii bishobron jamiil dm Allah dy tdk dtg krn kCantkn,kpintrn/pn kKyAnmu.Tp AllahLh yg mNggrakn dy u/dtg kpdmu.JgnLh tGesa u/mgXpreskan cint pdx sblm Allah mNgiznkn.Blm tntu yg kw cntai adLh yg tBaik u/mu.Sapakh yg lbh mNgethui mLainkn Allah? Innallaha ‘alimul hakimsimpnLh sgl bntk ungkpn cint dlm ht rpt2.Allah kn mJWBx dg Lbh indh dSaAt yg TEPAT,,”
(from: +628977425***)








Dikirim pada 28 Juli 2010 di Akhwat Zone
Awal « 1 2 3 4 » Akhir


connect with ABATASA