0
Dikirim pada 19 Oktober 2010 di Renungan

Kemarin (16 September 2010), alhamdulillah diberi kesempatan untuk nonton film Sang Pencerah. Awalnya tertarik untuk menonton film ini hanya dari status seorang teman yang bilang bahwa film ini bagus. Secara, saya sendiri terakhir nonton film di bioskop itu masa-masa SMP dulu.

Saya menontonya seorang diri, di EMPIRE BIP di Bandung. Awalnya mau nonton di Jakarta, akan tetapi karena ada tugas menjaga rumah yang tidak mungkin saya tinggalkan, barulah kesampaian untuk menontonya di Bandung. Sambil mengerjakan beberapa keperluan yang lain di Gramedia, dan BEC.

Udahlah, sekarang langsung masuk ke review filmnya saja ya…

hmmp, menurut saya film ini sangat BAGUS. Menghibur sekaligus Inspiratif. Mengapa saya katakan menghibur ? saya sendiri, sebagai orang yang sebenarnya tidak terlalu suka menonton film, terpesona dengan plot yang ada. Ceritanya rancak dan mengalir, diselingi humor-humor yang cerdas. Penonton pun, benar-benar dibuat seakan sedang berada di Jogjakarta tahun 1920-an. Dengan budaya jawa yang feodal, dan pendudukan Belanda menjadi latar sejarahnya.

Terus, mengapa Inspiratif !? karena banyak sekali pesan-pesan dakwah yang ada di film tersebut. Walaupun kebanyakan pesan tersebut tampil dan mengemuka lewat perkataan sosok Ahmad Dahlan, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi esensi dari pesan yang disampaikan.

berikut beberapa inspirasi yang saya dapatkan setelah menonton film tersebut :

1. Mencermati film “Sang Pencerah”, seakan membuka kembali budaya orang Jawa yang mau tidak mau harus saya akui, Feodal. Pengaruh agama Hindu yang mengenal kasta sangat terasa di budaya Jawa. Orang-orang  tua maupun yang dituakan menjadi sangat dihormati atau bahkan ditakuti oleh anak-anaknya. Para kiyai, dan penguasa residen maupun sultan seakan dikultuskan oleh rakyat. Hal ini bisa dilihat dalam film tersebut, dimana setiap orang harus berlutut dan “menyembah” setiap ada kiyai yang lewat di depan mereka.

2.  Dalam film “Sang Pencerah” KH Ahmad Dahlan memulai pengajiannya dengan sesuatu yang tidak biasa. Ia mempersilahkan murid-muridnya untuk memilih sendiri tema pengajian mereka hari itu. Dan ini sama sekali tidak biasa ! Disini KH Ahmad Dahlan mengajarkan pada kita, bahwa ketika kita berangkat mengaji, jangan bermental untuk disuapi, segalanya mesti dipersiapkan, pun itu hanya sebuah pertanyaan.(keknya metode ini bisa dicoba di mentoring dan liqo2 kita.. hehehe ^_^)

3.  These are my favorite quote in this movie “Agama itu seperti musik, mengayomi, menyelimuti, memberi keindahan pada pengikutnya” and “setiap kita, punya keWAJIBan untuk selalu memberi yang terbaik untuk agama ini, untuk umat”

4. Belajar dari keluarga Ahmad Dahlan, bahwa kita harus selesai dulu dengan diri sendiri, dengan keluarga kita, baru kita bisa keluar untuk berdakwah kepada masyarakat. Selesai memimpin diri sendiri, baru bisa memimpin masyarakat.

terakhir, inilah hasil karya dari perjuangan itu setelah satu abad. Jumlah sekolah di bawah payung muhammadiyah berjumlah 7.307. Jumlah itu masih ditambah lagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebanyak 168. Jumlah Rumah Sakit/ Balai Pengobatan sebanyak 389 buah.Jumlah BPR/BT sebanyak 1.673. Jumlah Masjid sebanyak 6.118, sedang jumlah Musholla sebanyak 5.080 buah.

Jika jumlah sekolahnya saja sudah demikian banyak, pasti sudah tidak terhitung  lagi berapa banyak anak bangsa ini yang terdidik akibat adanya muhammadiyah. Mungkin kita tidak akan pernah melihat masterpiece “laskar pelangi” jika tidak pernah ada perkumpulan bernama Muhammadiyah di bumi nusantara ini. Barakallah, buat seluruh warga muhammadiyah, terutama untuk pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Sungguh, darimu kita semua bisa belajar banyak hal. tentang Islam, tentang Dakwah, dan berbuat yang terbaik di jalanNya.



Dikirim pada 19 Oktober 2010 di Renungan
comments powered by Disqus


connect with ABATASA