0
Dikirim pada 20 Oktober 2010 di Renungan

 

INILAH.COM, Jakarta - PKS disebut-sebut memiliki tujuan untuk memformalisasi Islam dalam bentuk negara dan aplikasi syari’ah sebagai hukum positif (Khilafah Islamiyah). Akibatnya, PP Pemuda Muhammadiyah mengkhawatirkan gerakan yang dilakukan PKS.

"Dari kalangan Islam yang cenderung pluralis seperti Muhammadiyah, memang agak khawatir dengan gerakan PKS yang seperti itu. Karena pimpinan PKS itu masih berideologi Ikhwanul Muslimin," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimin kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (8/4).

Dalam buku bertajuk "Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia", PKS disebutkan lahir dari gerakan tarbiyah yang menganut gerakan Ikhwanul Muslimin. Tujuan gerakan itu, adalah formalisasi Islam dalam bentuk negara dan aplikasi syari’ah sebagai hukum positif (Khilafah Islamiyah).


Menurut Izzul, kalangan Islam pluralis di Indonesia juga tengah menunggu apakah sikap PKS yang saat ini cenderung ke tengah itu sekedar kamuflase untuk meraih kekuasaan atau memang akan menjadi partai yang lebih terbuka. Bila hanya kamuflase, ia menilai, PKS akan sulit berkembang di Indonesia.

"PKS itu saat ini menjadi salah satu model partai yang menurut saya polanya sama seperti yang dikembangkan di Turki sepeti Hamas. Mereka menggunakan politik sebagai salah satu pendekatan utama untuk menyebarkan Islam. Dengan pola yang berkembang di Indonesia, PKS tidak bisa melakukan penipuan politik dari kanan ke tengah dan ke kanan lagi. Dia akan menghadapi pertentangan dari orang banyak dan ditinggalakn pemilihnya kalau seperti itu," tuturnya.


Terkait dengan terbitkan SKPP Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 untuk menyelamatkan Muhammadiyah dari infiltrasi partai politik seperti PKS, Izzul menjelaskan bahwa sebenranya SKPP itu berlaku bagi semua parpol bukan hanya PKS saja. "PKS itu hanya jadi contoh. Intinya tentang konsolidasi organisasi, terkait dengan konsolidasi itu PP Muhammadiyah meminta untuk tidak mencampuradukan kepentingan dakwah sebagai kegiatan politik, salah stunya adalah PKS," terangnya.

Dalam buku setebal 321 halaman itu menuliskan, gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirkan oleh Hasan al-Banna di Mesir, hadir di Indonesia pada awalnya melalui lembaga-lembaga dakwah kampus yang kemudian menjadi Gerakan Tarbiyah. Kelompok inilah yang kemudian melahirkan PKS. Tujuan dari gerakan itu adalah formalisasi Islam dalam bentuk negara dan aplikasi syari’ah sebagai hukum positif atau Khilafah Islamiyah (hal 78).

Buku setebal 321 halaman ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan selama 2 tahun terakhir. Sederet nama beken yang tercantum dalam buku ini antara lain Abdurrahman ’Gus Dur’ Wahid, Syafii Maarif dan Mustofa Bisri.



Dikirim pada 20 Oktober 2010 di Renungan
comments powered by Disqus


connect with ABATASA