0
Dikirim pada 21 Oktober 2010 di Akhwat Zone

Curhat itu memang perlu. Walau kadang kala, kita merasa apa yang kita curhatkan itu adalah yang sama. Dan mendengarkan itu adalah perlu, walau apa yang dicurhatkan itu adalah sama. Sudah Fitrah manusia mengeluarkan segala uneg-unegnya dengan tujuan mengurangi beban hidupnya. Tidak hanya wanita, pria pun membutuhkannya. Segala komoditi internet ditujukan juga untuk mengurangi tingkat stress diri, sangat familiar salah satunya adalah email, blog, facebook, dan tak ketinggalan sosial commuditi sejenis plurk, dan saya mulai kecanduan dengan komoditi inet yang satu ini.

Menilik curhat lewat mail, anda tahu sendiri, bagaimana reaksi masyarakat terkait dengan kasus Prita dengan email curhatnya, yang dibela oleh banyak blogger dan insan pers bahkan DPR, membuktikan betapa curhat itu adalah kebutuhan primer yang setiap orang berhak mendapatkannya. Di lain negara, curhat bisa dilakukan kepada seorang robot, yang diberi nama Indrabot yang sudah dilengkapi dengan intelegensia tinggi dari aplikasi teori AI (Artificial intellegent). Apalagi seorang yang sudah renta (tua) mereka butuh waktu untuk didengarkan dan diberi komentar, walau hal itu mungkin tidak terlalu penting untuk disimak oleh seorang pendengar, tapi jangan salah sangka bagi si renta hal ini sangat berguna baginya.

Hmm.. semua orang butuh curhat!

Saya teringat, beberapa bulan yang lalu, ada masalah keluarga yang menimpa saya dan kakak. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menangis, karena tidak tahu apa solusinya dan mungkin juga karena emosi saya masih labil. Saat itu saya merasa nyaman sekali saat mama menenangkan saya dan mendengarkan curhat saya, dan semuanya berakhir sempurna. Saat itu tiada lagi resah gulana, dan baru menyadari betapa nikmatnya mempunyai mama, tidak perlu cari orang lain untuk mendengarkan curhat kita, atau datang ke kost orang yang kita pengen curhati itu (seperti yang saya lakukan sebelum bekerja). Weits.. ini OOT (out Of Topic ), bukan bermaksud mengiming-imingi para pembaca yang pengen bekerja [ peace ] .

Bagi yang belum nikah [ Ceiee gayanya :D], ati-ati bener-bener ati-ati curhatan ama lain jenis yang bukan mahram. Mungkin kita para cewek akan merasa nyaman, ga perlu berbasa-basi, to the point nan, logika yang lebih berperan daripada perasaan sehingga lebih cepet nemu solusinya. Tapi bila hal itu dilakukan antara seorang cewek ke lain jenis yang bukan mahramnya akan berakibat khalwat. Dan itu akan beimbas pada dosa. Kenapa? Karena curhat, mengutarakan isi hati akan menciptakan iklim yang intens berhubungan dengan orang yang dicurhati, alhasil lama kelamaan akan mempunyai kesamaan chemistry yang sama, dan akhirnya akan menimbulkan kecanduan dan membawa ingatan kita kepada yang kita curhati, baik dilakukan by sms, email, facebook, atau sejenisnya. Islam melarang keras khalwat karena hal itu mendekati zina. Dan curhat dengan lain jenis akan menurunkan izzah kita sebagai seorag muslimah. Menjauhi curhat dengan lawan jenis merupakan bentuk penjagaan terhadap nafsu yang sering bergelora dan akan lebih bergelora bila sudah tiba saatnya.

Terkadang.. butuh kedewasaaan saat seseorang mendengarkan curhat yang sama dari orang yang sama dengan permasalahan yang sama, perihal sudah dikasih tahu solusinya, tetapi tetep saja berulang dengan masalah yang sama. Betapa kerdilnya manusia ya.. yang permasalahanya dibebani dengan masalah yang sama, tapi dia masih saja kebingungan memecahkannya. Boleh jadi, dia dinilai sang Pencipta, tidak tangguh untuk menyelesaikan masalahnya tersebut. Atau dengan kata lain, sang pencipta ingin hamba tersebut lebih lihai memanagemen perasaan diri. Intinya sih, ketika kita diberi ujian pastilah kita akan mampu menyelesaikannya, karena Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan kita menyelesaikannya.

Curhat yang tepat dilayangkan kepada Allah sebagai Dzat yang sebaik-baik penolong. Hasbunalloh wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman natsir. Kemudia kepada suami, murrobi, teman yang kita anggap sholeh/sholehah. Dengan bercurhat tersebut kita bisa diarahkan untuk mengarungi permasalahan dengan solusi yang religi. Meniti jalan kebaikan itu tidaklah mudah, perlu perjuangan ekstra dan kemauan yang kuat, serta pengetahuan yang memadai untuk melalui medan tersebut. Kita akan melewati banyak sekali godaan, onak dan duri, yang membuat kita terengah-engah kepayahan. Tapi itulah jalan terakhir menuju Surga. Sebaliknya jalan ke nereka dipenuhi dengan berlimpangan kesenangan yang menipu. Ingatlah kawan kesenangan ini hanyalah sementara, dan kebebasan yang dirasakan semu adanya.

Mungkin agak aneh kurasa tulisan ini, masih belepot disana-sini, ditulis dalam kondisi yang sempit mencuri waktu untuk menyempatkan diri mengisi blog keep hamasaah , monggo di kritisi..



Dikirim pada 21 Oktober 2010 di Akhwat Zone
comments powered by Disqus


connect with ABATASA