0

Curhat itu memang perlu. Walau kadang kala, kita merasa apa yang kita curhatkan itu adalah yang sama. Dan mendengarkan itu adalah perlu, walau apa yang dicurhatkan itu adalah sama. Sudah Fitrah manusia mengeluarkan segala uneg-unegnya dengan tujuan mengurangi beban hidupnya. Tidak hanya wanita, pria pun membutuhkannya. Segala komoditi internet ditujukan juga untuk mengurangi tingkat stress diri, sangat familiar salah satunya adalah email, blog, facebook, dan tak ketinggalan sosial commuditi sejenis plurk, dan saya mulai kecanduan dengan komoditi inet yang satu ini.

Menilik curhat lewat mail, anda tahu sendiri, bagaimana reaksi masyarakat terkait dengan kasus Prita dengan email curhatnya, yang dibela oleh banyak blogger dan insan pers bahkan DPR, membuktikan betapa curhat itu adalah kebutuhan primer yang setiap orang berhak mendapatkannya. Di lain negara, curhat bisa dilakukan kepada seorang robot, yang diberi nama Indrabot yang sudah dilengkapi dengan intelegensia tinggi dari aplikasi teori AI (Artificial intellegent). Apalagi seorang yang sudah renta (tua) mereka butuh waktu untuk didengarkan dan diberi komentar, walau hal itu mungkin tidak terlalu penting untuk disimak oleh seorang pendengar, tapi jangan salah sangka bagi si renta hal ini sangat berguna baginya.

Hmm.. semua orang butuh curhat!

Saya teringat, beberapa bulan yang lalu, ada masalah keluarga yang menimpa saya dan kakak. Yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah menangis, karena tidak tahu apa solusinya dan mungkin juga karena emosi saya masih labil. Saat itu saya merasa nyaman sekali saat mama menenangkan saya dan mendengarkan curhat saya, dan semuanya berakhir sempurna. Saat itu tiada lagi resah gulana, dan baru menyadari betapa nikmatnya mempunyai mama, tidak perlu cari orang lain untuk mendengarkan curhat kita, atau datang ke kost orang yang kita pengen curhati itu (seperti yang saya lakukan sebelum bekerja). Weits.. ini OOT (out Of Topic ), bukan bermaksud mengiming-imingi para pembaca yang pengen bekerja [ peace ] .

Bagi yang belum nikah [ Ceiee gayanya :D], ati-ati bener-bener ati-ati curhatan ama lain jenis yang bukan mahram. Mungkin kita para cewek akan merasa nyaman, ga perlu berbasa-basi, to the point nan, logika yang lebih berperan daripada perasaan sehingga lebih cepet nemu solusinya. Tapi bila hal itu dilakukan antara seorang cewek ke lain jenis yang bukan mahramnya akan berakibat khalwat. Dan itu akan beimbas pada dosa. Kenapa? Karena curhat, mengutarakan isi hati akan menciptakan iklim yang intens berhubungan dengan orang yang dicurhati, alhasil lama kelamaan akan mempunyai kesamaan chemistry yang sama, dan akhirnya akan menimbulkan kecanduan dan membawa ingatan kita kepada yang kita curhati, baik dilakukan by sms, email, facebook, atau sejenisnya. Islam melarang keras khalwat karena hal itu mendekati zina. Dan curhat dengan lain jenis akan menurunkan izzah kita sebagai seorag muslimah. Menjauhi curhat dengan lawan jenis merupakan bentuk penjagaan terhadap nafsu yang sering bergelora dan akan lebih bergelora bila sudah tiba saatnya.

Terkadang.. butuh kedewasaaan saat seseorang mendengarkan curhat yang sama dari orang yang sama dengan permasalahan yang sama, perihal sudah dikasih tahu solusinya, tetapi tetep saja berulang dengan masalah yang sama. Betapa kerdilnya manusia ya.. yang permasalahanya dibebani dengan masalah yang sama, tapi dia masih saja kebingungan memecahkannya. Boleh jadi, dia dinilai sang Pencipta, tidak tangguh untuk menyelesaikan masalahnya tersebut. Atau dengan kata lain, sang pencipta ingin hamba tersebut lebih lihai memanagemen perasaan diri. Intinya sih, ketika kita diberi ujian pastilah kita akan mampu menyelesaikannya, karena Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan kita menyelesaikannya.

Curhat yang tepat dilayangkan kepada Allah sebagai Dzat yang sebaik-baik penolong. Hasbunalloh wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman natsir. Kemudia kepada suami, murrobi, teman yang kita anggap sholeh/sholehah. Dengan bercurhat tersebut kita bisa diarahkan untuk mengarungi permasalahan dengan solusi yang religi. Meniti jalan kebaikan itu tidaklah mudah, perlu perjuangan ekstra dan kemauan yang kuat, serta pengetahuan yang memadai untuk melalui medan tersebut. Kita akan melewati banyak sekali godaan, onak dan duri, yang membuat kita terengah-engah kepayahan. Tapi itulah jalan terakhir menuju Surga. Sebaliknya jalan ke nereka dipenuhi dengan berlimpangan kesenangan yang menipu. Ingatlah kawan kesenangan ini hanyalah sementara, dan kebebasan yang dirasakan semu adanya.

Mungkin agak aneh kurasa tulisan ini, masih belepot disana-sini, ditulis dalam kondisi yang sempit mencuri waktu untuk menyempatkan diri mengisi blog keep hamasaah , monggo di kritisi..

Dikirim pada 21 Oktober 2010 di Akhwat Zone

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya.



Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar.



Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria shalih tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.



Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini.



1. Karena akidahnya yang Shahih



Keluarga adalah salah satu benteng akidah. Sebagai benteng akidah, keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah segala-galanya dan seluruh anggota keluarga tidak mungkin selamat dunia-akhirat. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri shalihah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang.



Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)



2. Karena paham agama dan mengamalkannya



Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki shalih.



Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung.” (Bukhari dan Muslim)



Rasulullah saw. juga menegaskan, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang shalihah.” (Muslim, Ibnu Majah, dan Nasa’i).



Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita shalihah.



3. Dari keturunan yang baik



Rasulullah saw. mewanti-wanti kaum lelaki yang shalih untuk tidak asal menikahi wanita. “Jauhilah rumput hijau sampah!” Mereka bertanya, “Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk.” (Daruquthni, Askari, dan Ibnu ‘Adi)



Karena itu Rasulullah saw. memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. “Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita-wanita) dan nikahilah (wanita-wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan),” kata Rasulullah. (Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi).



“Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena seorang lelaki itu mungkin menyerupai paman-pamannya,” begitu perintah Rasulullah saw. lagi. “Nikahilah di dalam “kamar” yang shalih, karena perangai orang tua (keturunan) itu menurun kepada anak.” (Ibnu ‘Adi)



Karena itu, Utsman bin Abi Al-’Ash Ats-Tsaqafi menasihati anak-anaknya agar memilih benih yang baik dan menghindari keturunan yang jelek. “Wahai anakku, orang menikah itu laksana orang menanam. Karena itu hendaklah seseorang melihat dulu tempat penanamannya. Keturunan yang jelek itu jarang sekali melahirkan (anak), maka pilihlah yang baik meskipun agak lama.”



4. Masih gadis



Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya.



Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit,” begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi.



Tentang hal ini A’isyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan menggembalakan untamu?” Nabi menjawab, “Pada yang belum pernah digembalai.” Lalu A’isyah berkata, “Itulah aku.”



Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada kasus seorang sahabat bernama Jabir.



Rasulullah saw. sepulang dari Perang Dzat al-Riqa bertanya Jabir, “Ya Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Jabir menjawab, “Sudah, ya Rasulullah.” Beliau bertanya, “Janda atau perawan?” Jabir menjawab, “Janda.” Beliau bersabda, “Kenapa tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya?” Jabir menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang dapat mengurus mereka.” Nabi bersabda, “Engkau benar, insya Allah.”



5. Sehat jasmani dan penyayang



Sahabat Ma’qal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Selanjutnya ia pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw. tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (Abu Dawud dan Nasa’i).



Karena itu, Rasulullah menegaskan, “Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain.” (Abu Daud dan An-Nasa’i)



6. Berakhlak mulia



Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Muluk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.”



7. Lemah-lembut



Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari A’isyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai A’isyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.”



8. Menyejukkan pandangan



Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya.” (Abu daud dan An-Nasa’i)



“Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya,” begitu kata Rasulullah saw. lagi.



Maka tak heran jika Asma’ binti Kharijah mewasiatkan beberapa hal kepada putrinya yang hendak menikah. “Engkau akan keluar dari kehidupan yang di dalamnya tidak terdapat keturunan. Engkau akan pergi ke tempat tidur, di mana kami tidak mengenalinya dan teman yang belum tentu menyayangimu. Jadilah kamu seperti bumi bagi suamimu, maka ia laksana langit. Jadilah kamu seperti tanah yang datar baginya, maka ia akan menjadi penyangga bagimu. Jadilah kamu di hadapannya seperti budah perempuan, maka ia akan menjadi seorang hamba bagimu. Janganlah kamu menutupi diri darinya, akibatnya ia bisa melemparmu. Jangan pula kamu menjauhinya yang bisa mengakibatkan ia melupakanmu. Jika ia mendekat kepadamu, maka kamu harus lebih mengakrabinya. Jika ia menjauh, maka hendaklah kamu menjauh darinya. Janganlah kami menilainya kecuali dalam hal-hal yang baik saja. Dan janganlah kamu mendengarkannya kecuali kamu menyimak dengan baik dan jangan kamu melihatnya kecuali dengan pandangan yang menyejukan.”



9. Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban



Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki shalih adalah qana’ah. Bukan saja qana’ah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an, tetapi juga qana’ah dalam menerima pemberian suami. “Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia taat bila engkau menyuruhnya.” Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, “Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.”



Kata Rasulullah, “Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya.” (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari A’isyah r.a.)



Tapi, “Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran,” begitu firman Allah swt. di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, “Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan.” (At-Thalaq: 6)



10. Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa



Istri yang shalihah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, “Ketika turun ayat ‘walladzina yaknizuna… (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambil”. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.”



11. Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya



Nailah binti Al-Fafishah Al-Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, “Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini?” “Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya,” jawab Nailah. “Tapi ketuaanku ini terlalu renta.” Nailah menjawab, “Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah saw. dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.”



12. Pandai bersyukur kepada suami



Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya.” (An-Nasa’i).



13. Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat



Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.



Rasulullah saw. menemui Ummu Salamah dan berkata, “Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.”



Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, “Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.”



Subhanallah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang shalih.


Dikirim pada 16 Oktober 2010 di Akhwat Zone


Wahai jiwa..
betapa mudahnya engkau terbolak balik
hanya karena beberapa kata atau tindak yg mungkin tak
disengaja
——————————————————————————————————————————————–
M. Lili Nur Aulia
(Allah, Kokohkan Kaki Kami di Atas Jalan-Mu)
“Kata-kata itu, bisa mati,” tulis Sayyid Qutbh
“Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis
dengan lirik yang indah atau semangat.
Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul
dari hati orang yang kuat meyakini apa yang
dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki
keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannyanya
kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan
dalam dirinya sendirinya, lalu menjadi visualisasi
nyata apa yang ia katakan.” Lanjut Sayyid Qutbh dalam
karya monumental Fii Zilaalil Qur’an
Saudaraku,
menjadi penerjemah apa yang dikatakan,
menjadi bukti nyata apa yang diucapkan.
Betapa sulitnya.
Tapi ini bukan sekadar anjuran.
Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot
pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata
menjadi kering, lemah, ringan, tak berbobot, seperti
yang disinyalir oleh Sayyid Qutbh tadi.
Lebih dari itu semua, merupakan perintah Alla SWT.
Firman Allah swt yang tegas menyindir soal ini ada
pada surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya,
“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan
kebaikan sedangkan kalian melupakan diri kalian
sendiri dan kalian membaca Al Kitab. Apakah kalian
tidak berakal?”
Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu,
akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri
kita.
Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan
pemahaman yang sedikit, tetapi banyak beramal dan
mempraktikkan ilmu yang sedikit itu.
Kita dahulu, yang barangkalai belum banyak membaca dan
mendapatkan keterangan tentang Allah, Rasulullah SAW,
tentang Islam, tapi begitu kuat keyakinan dan banyak
amal shalih yang dikerjakan.
Kita dahulu belum banyak mendengarkan nasihat,
diskusi, arahan para guru dalam menhjalankan agama,
tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan
apa yang kita ketahui itu.
Meskipun sedikit.
Saudaraku,
banyak yang hilang dari diri kita..
Dahulu, sahabat Ali radiallahu anhu pernah mengatakan
bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah.
Antara lain, ia menyebutkan, “….Ketika sesorang
mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan.” itulah
ciri fitnah besar yang terjadi di akhir zaman. Sahabat
lainnya, Ibnu Mas’ud juga pernah menyingggung hal ini
dalam perkataannya, “Belajarlah kalian, dan bila
kalian sudah mendapatkan ilmunya, maka laksanakanlah
ilmu itu. “Ilmu dan amal, dua pasang mata uang yang
tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini
lebih bisa berilmu namun miskin dalam amal…
Saudaraku,
Berhentilah sejenak disini
Duduk dan merenunglah utnuk memikirkan apa yang kita
bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih
lanjut oleh Sayyid Qutbh, “Sesungguhnya iman yang
benar adalah ketika ia kokoh dalam hati dan terlihat
bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang
bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif.
akidah islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak
hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar,
teterjemah dalam gerak di alam realitas.
Saudaraku,
Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri
kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat
apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita
selama ini.
Imam Ghazali mengatakn, “Jalan untuk membersihkan jiwa
adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari
jiwa yang bersih dan sempurna.”
Saudaraku,
Mungkin banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita..
—————————————————————————————————————————————-
awal sedikit sedikit
lama lama mengapa jadi menipis
akhirnya malah habis
Dahulu tiga juz
tereduksi menjadi
dua juz, satu juz, setengah juz
akhirnya hanya ingat jus..
jus alpukat..jus melon.. jus sirsak..
Dahulu shaum Daud..
mengendur menjadi shaum senin kamis..
lalu mulai lupa ayyamul bidh..
tinggallah tak makan hanya pukul 9 malam hingga pukul 5 esok paginya..
Dahulu tahajud full version..
lalu tak sempat dan yang penting paginya harus Shalat Duha..
tak sempat juga? yang penting rawatib bisa terjaga
lalu kuliah
lalu praktikum
lalu capek
lalu
lalu
akhirnya usahakan saja agar sholat “tepat pada waktunya”
Dahulu jilbab ini menutup lebar seluruh tubuh
perlahan naik hingga ke siku..
lalu tak apalah cuman sampai bahu, yang penting tetap dengan kata-kata pamungkas “yang penting masih syar’i”
perlahan kenapa tak sekalian saja dibuat melilit agar lebih menarik?
Dahulu rok menjadi pakaian wajib
singkuh rasanya jika sempit membekap tubuh
perlahan berubah model agar lebih gaya
kenapa tak sekalian menggunakan celana panjang agar lebih bebas kemana-mana??
Dahulu murottal mengalun menemani setiap saat sembari berusaha menjaga hafalan
ditemani penyemangat berupa nasyid-nasyid bersyair haraki
lalu semakin banyak nasyid bersyair mendayu
akhirnya lagu-lagu populer terbaru menjadi playlist nomor satu
Dahulu enggan menghabiskan waktu sia-sia
lalu mulai tergoda untuk cinta bola
buat akhwatnya makin doyan saja sama dorama
dahulu mubah dihidari sekarang mubah senantiasa

Dahulu paling anti komunikasi tidak penting antar jender
lalu mulai memberi ruang dengan alasan tukar informasi
bergulir menjadi hubungan antara dua hati
pada akhirnya saling berkomitmen hanya dengan modal janji

keimanan ini sangat mudah untuk bisa menjadi tipis,
dengan diri yang selalu mendapati hal baru setiap harinya
mendapatkan informasi ini itu
berita disana sini
membuat jurang toleransi pada diri kadang semakin lebar
“Tak ada salahnya aku begini, kan mereka juga seperti itu”
Amalan-amalan itu semakin terkikis dengan rendah komitmen untuk tegas pada diri sendiri
tak apa melakukan yang mubah tetapi jangan kalah dengan yang mubah..

Teringat kisah para salafus salih, bahkan hanya ‘berani’ bermain aman’ di ranah halal dan sunah.. tak ‘berani’ menjejaki yang mubah
karena khawatir terbiasa dengan yang mubah dan bisa terseret ke satu tingkat di bawahnya.

Dikirim pada 01 Oktober 2010 di Akhwat Zone


Sungguh menyedihkan…..
susah sekali menjemput jodoh buat akhwat yang telah berumur cukup…….
cerita dibawah ini adalah benar tetapi dengan nama yang disamarkan
Tersebutlah namanya Rani , seorang ukhti berumur 29 tahun yang mapan dalam segala hal…., ibadahnya, pekerjaannya…dan secara fisik bisa dibilang…cantik…cantik hati dan cantik lahir……
Rani teman saya tengah galau dalam menjemput jodoh….banyak usaha yang dilakukan dari mulai berdo’a, minta dicomblangin dan mendaftar ke biro jodoh islami…
suatu hari dia dicomblangi temannya dengan seorang ikhwan bernama ardyan, 27 tahun
jelang 1minggu masa ta’aruf, ardyan menyatakan keseriusanya dan mendatangi orang tua rani, menyatakan keseriusannya walaupun ada perbedaan usia 2 tahun…(lebih tua rani)
dengan penuh sukacita dan rasa syukur rani , karena salon pendamping impiannya telah datang dan masa kesendiriannya akan berakhir….
apa yang terjadi, selang 2 hari dari ardyan menyatakan keseriusan terhadap orang tua rani…tiba2 ardyan memutuskan hubungan dengan alasan ortu ardyan tidak setuju dengan adanya perbedaan umur…..bahkan ortu ardyan tidak ingin dan tidak mau melihat calon menantunya terlebih dahulu….
seakan2 perbedaan umur adalah hal yang TABU bagi mereka…
terpuruklah temanku rani…..menangis sejadi2nya merasa diri hina….dan buruk….
apakah umur yang lanjut adalah suatu kesalahan ataukah AIB…….
Dia menangis sejadinya, mengadukan nasibnya pada maha pengasih….begini do’anya…
‘Ya Allah apakah di dunia ini ak mempunyai jodoh…”, apakah umur hamba yang lanjut adalah suatu kehinaan sehingga hamba diperlakukan seperti ini…..Akhirnya Allah menunjukkan keadilannya, kasih sayangnya…..
2 minggu kemudia ada seorang ikhwan yang melamar rani dan ikhwan itu umurnya 2 tahun lebih muda….rani bertanya apa yang membuatnya tidak mengindahkan perbedaan umur…
ikhwan itu menjawab….apakah Allah menciptakan manusia berpasang2an menghimpunnya dengan kasih sayang karena-Nya dengan menetapkan batasan umur????
Nabi Muhammad SAW saja beristrikan khadijah dengan perbedaan umur yang sangat jauh…..Subhanallah
dan tadi ada seorang ikhwan yang menolak mentah2 seorang akhwat yang belum pernah ditemuinya sama sekali karena perbedaan umur hanya beberapa bulan….
terus terang hati ini menjadi sakit, mendidih, saat ini masih ada orang ISLAM , pengikut Nabi Muhammad SAW yang berpikiran dangkal seperti itu……
Untuk para akhwat…lanjutkan perjuangan tetap istiqamah dalam menjemput jodoh…tetap yakin bahwa Allah pasti akan menunjukkan kasih sayang-Nya, dan yang pernah mengalami hal ini yakinlah bahwa jika gagal dalam berta’aruf bukan kesalahan dari kita bukan kesalahan umur kita yang sudah lanjut tapi tetap ingat janji Allah dalam ayat ini: Laki2 yang Baik adalah untuk perempuan Yang Baik dan sebaliknya….karena teruslah perbaiki diri kita untuk menjemput jodoh terbaik
maaf jika cerita ini kurang berkenan


Dikirim pada 14 September 2010 di Akhwat Zone
Awal « 1 2 3 4 » Akhir


connect with ABATASA