0
28 Jul



Cinta itu unsur kimia hati yang merasuk tanpa tersadari. Tak nampak namun bisa dinikmati. Terjaga walau dalam gelapnya arti. Kadarnyapun berwarna-warni. Sewarna 1001 macam kekasih yang menggelanyuti hati. Menawarinya dengan sejuta kenikmatan, pun menjajahnya bagai budak belian. Sewarna warni itu membutuhkan tuntutan, membutuhkan prioritas. Jika anda mampu menempatkan cinta itu dalam nampan-nampan suci, dalam tingkatan kesejatiannya, anda akan menikmati dengan 1001 keindahan yang tak terkira. Pesonanya luar biasa. Jika anda tidak mampu membuat prioritas dan tak bisa menetapkan tingkatan-tingkatannya tidak mengukur derajat-derajatnya, tidak menetapkan kasta-kastanya maka cinta menjadi 1001 persoalan. Seribu satu lara. Satu darinya bahkan lebih berat ketimbang beratnya memikul jabal uhud.
Tak sekedar menanggung derita dan beratnya memikul lara. Tetapi juga sedang berjalan mamasuki lorong gelap menyesatkan dan menyengsarakan, karena ia berjalan dalam kegelapan, atau jalan itu sebenarnya nyata namun tak mampu manatapnya, rabun dan dalam kebutaan. “Dan Allah tidak memberi petunjuk (arah) kepada orang-orang fasik.”.
Siapa orang-orang fasik itu? Di ayat sebelumnya Allah mendampingkan sebutan dalam ayat ini dengan sebutan “….maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” [QS. At-Taubah [9]: 23). Dzalim atau adz-dzulum adalah kegelapan. Tidak bisa memilih dan memilah. Jika gelap jalannya jadi kacau. Blaen (=jawa). Gelap mata. Buta. Love s blind. Cinta itu buta akhirnya.
“.. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). QS.Al-Baqarah [2]:165.
Bagai puncak gunung menjulang. Seperti susunan piramida. Kenikmatan sejati ada pada puncaknya. Berdirinya di puncak cinta ia akan menatap sejuta macam cinta lainnya, yang ada di bawahnya. Derajat cinta itu merangkum kadar-kadarnya. Ada kadar yang ala kadarnya dan ada kadar yang telah ditakdirkan dengan kadar tanpa batas takaran, penakdirannya tak mengenal batas. Tak mengenal luas, kadarnya seluas langit dan bumi, seluas tujuh tingkatan langit. Itulah kadar tertinggi. Itulah derajat teragung dan maqom (tempat) paling mulia. Dan inilah urutan-urutannya:
1. Derajat pertama (tertinggi), adalah cinta dalam bentuk tatayyum, cinta dalam bentuk tatayyum ini adalah cinta kepada Sang Khaliq. Ia berada pada derajat tertinggi. Tidak ada lagi yang diduakan. Cinta tatayyum adalah kecintaan totalitas. Ruang besar tanpa batas. Tanpa reserve. Cinta penghambaan. Cinta yang membudakkan. Artinya siap menjadi budak-Nya. Apa kata Dia, yang dilakukan dengan penuh cinta pula. Sebab Dia telah melimpahkan semuanya dengan cinta. Laa yajidu fii anfusihim khorojan, wayusallimuu taslimaa..(..dan tidak ada lagi dalam hatinya perasaan berat (untuk melaksanakan) dan dia berserah diri dengan penyerahan secara sempurna). Derajat dan bentuk cinta ini hanya untuk Allah SWT. Ruang ini hanya hak Allah. Sami’na wa atha’naa. Mendengar-Nya dan menta’ati-Nya.
Dan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH “. (Qs. Al Baqarah:165)
2. Derajat kedua, adalah `isy-qu, cinta yang merupakan hak Rasulullah. Penumbuhannya dalam bentuk ‘isyq, keasyikan dalam meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW. Kekasih kita. Kecintaan inilah yang mendorong kita untuk bercontoh, ittiba’ atas sunnah-sunnahnya. Asyik, kesediaan jiwa dan langkah untuk berkorban dan berjuang menegakkan risalah yang dibawanya. Kesediaan untuk berjuang menegakkan nilai-nilai Islam. Asyik dalam menelaah kisah perjalannya, karena perjalanannya memang penuh cinta, cinta pada ummatnya. Yang dengan cintanya ia penuh kearifan berdoa bagi anak-anak Thaif yang melemparinya. Ia tersenyum sabar atas tingkah Yahudi buta yang mencaci makinya. Yang dengan cintanya Sang Nabi menaklukkan jiwa-jiwa manusia dalam naungan Islam. Bedanya dengan cinta tatayyum adalah cinta `isyq ini tidak mendorong seseorang untuk menghamba kepada Rasulullah SAW. Tetapi meneladaninya dengan penuh mesra.

Jalan para nabi kita adalah jalan cinta
Kita adalah anak-anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita (Rumi).
“katakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka: jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku…”
3. Derajat ketiga, adalah syauq, cinta syauq adalah kecintaan seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara suami-istri, anak dengan orang tuanya. Jenis kadarnya adalah kadar dengan komposisi penuh kerinduan. Mengharmoni. Pengikatnya adalah ikatan iman. Cinta kepada orang-orang yang beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang mendekatkan kita pada kecintaan kepada Allah dan RAsul-Nya. Cinta ini membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang) dan menjadi perekat dalam membangun ummat.
4. Derajat keempat, adalah : shababah, kadar kecintaan ini adalah kecintaan dalam bentuk empati. Peruntukannya kepada sesama muslim. Ruang perhatiannya lebih dalam dari sekedar simpati. Ia lahir dari ikatan dasarnya adalah keimanan. Karena Islamnya. Perhatiannya (care) lebih mendalam. Ada keinginan kuat untuk selalu membahagiankannya. Responsibility. Dorongan jiwa agar ia selalu bertabur sejuta kebaikan dan kebahagiaan. Tidak sekedar suka, tetapi masuk ke ruang jiwanya. Lebih menjiwa. Apa yang dirasakannya akan pula kita rasakan. cinta yang ditujukan kepada sesama muslim sehingga melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar (selalu ingin mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga diri dari menghiba), ia terpuaskan jiwanya menakala ia sanggup keluar dari persoalan dirinya lalu memberi kemanfaatan untuk kekasihnya.
5. Derajat kelima, adalah : `ithf (simpati) yang ditujukan kepada seluruh manusia. Tanpa memandang ras, suku dan keyakinan. Cinta ini dimunculkan untuk mengilhamkan seseorang menjalin muamalah dengan keluhuran budi. menyeru dan menuntunnya ke jalan Allah. Kadarnyapun (hanya) sebatas suka. Suka itu adalah tarikan jiwa kepada kekasihnya. Rasa suka itu akan mendorong sang pecinta untuk bisa terampil memilih kata, menata jiwa, menghiasi tatakrama, lalu berlama-lama dalam membangun hubungan. Untuk apa derajat cinta ini ditumbuhkan?, Ya. Untuk membimbingnya, mendakwahinya, menuntunnya dan (bahkan) menyelamatkannya. Banyak kafilah jiwa-jiwa yang tersentuh awalmulanya, oleh cinta dalam tingkatan ini. Abu Bakar contohnya. Hamzah bin Abdul Muthalib misalnya. Atau Umar Tilmisani saat sentuhan awal bertemu Imam Hasan Albana.
6. Derajat yang keenam, derajat terendah cinta harta benda. Kecintaan pada materi. Fitrah ketetapan kecintaan manusia adalah pada materi. Pada benda. Atau yang menghasilkan materi. Kecintaan pada kedudukan, popularitas, posisi, jabatan. Islam membenarkan cinta ini. Lalu membimbingnya dalam dalam kadar yang terukur. Bentuknya `intifaa’ (mendayagunakan/memanfaatkan) nya saja. Pendayagunaan derajat cinta ini tidak sampai merasuk jiwa, mati-matian mengekalkannya atau membudakkan diri padanya. Ruangnya sekadar ruang-ruang permukaan. Sebatas kecenderungan saja. Alaqah, hanya menempel saja, Bak tetasan buliran air di ujung bebatuan goa, menetes, terlepas jatuh lalu mengumpul kembali. Kadang terlepas kadang pula tergenggam. Tentang sejauhmana seharusnya cinta seorang muslim terhadap dunia itulah seorang Salamah bin Dinar berkata, “Jadikan dunia ini dalam genggaman tanganmu dan jangan jadikan ia dalam lubuk hatimu”. Atau senandung munajat sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA: “Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku dan jangan jadikan dunia ini dalam hatiku”.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 29)
Inilah heararkinya. Karena cinta itu punya hirarki. Begitu kata Ustadz Anis Matta. Semua cinta kita hanya akan menjadi lurus kalau kita menyesuaikan diri dengan hirarki ini. Cinta kepada Allah ditempatkannya sebagai kecintaan tertinggi. Cinta kepada Rasulullah SAW dengan meneladaninya, dan mengasyikkan diri dalam ittiba’ (mengikuti jejak) dengan tanpa ada penghambaan/penyamaan dengan Allah. Cinta pada istri, atau istri-istri dan anak-anak, sanak saudara, handai taulan, karib kerabat, lalu turun pada derajat dibawahnya; pada semua insan, pada rumah, mobil, harta-harta, popularitas dan jabatan semuanya hanya akan menjadi lurus jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta pada Allah SWT. Perasaan kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu. Komposisinya harus terukur, derajatnya mesti terurut dan tertata.
Realita kehidupan kita memang menunjukkan betapa banyak manusia yang salah dalam menempatkan derajat-derajat cintanya. Kabur dalam membuat takaran-takaran ukurannya. Kadar-kadarnya. Ada derajat ketujuh membuainya, menjajahnya. Yaitu Cinta Syahwati, kecintaan yang mewariskan kemudaratan. cinta yang tidak termasuk dalam peringkat cinta terendahpun malah dijadikan prioritas utama. Atau ada pula yang salah dalam menempatkan peringkat cintanya. Jika seperti itu, cinta bukan lagi sebagai anugerah, tetapi berubah menjadi samudera duka yang terus mendera. Dan ingat baik-baik kata ini; jika cinta tanpa hirarki, jangan salahkan cinta.


Dikirim pada 28 Juli 2010 di Akhwat Zone


Cinta memang ajaib. Seperti menafsir kembali tentang pemaknaan syukur. Keajaiban syukur itu hanya akan dapat diterjemahkan dalam uraian-uraian yang menjiwa. Syukur hanya bersemi dalam jiwa-jiwa yang memiliki keterampilan sekaligus kecerdasan dalam memaknakan setiap apapun itu sebagai sebuah karunia. Makin cerdas dalam memaknakan setiap –sekecil apapun- sebagai karunia, makin tinggi pula keterampilan bersyukurnya. Cinta, membutuhkan pemaknaan yang mendalam dan meniiwa. Cinta kepada Allah pun cinta kepada kekasih hati.
Cinta memang ajaib. Tumbuh berseminya adalah energi yang melipat-lipat. Jika kita ingin menafsir tentang keajaiban cinta, keajaiban itu hanya bisa diurai jika jiwa kita-pun telah mampu menerjemahkan setiap episode kerja-kerja jiwa itu sebagai buah dari cinta. Ketika cinta akhirnya harus berkorban, ketika cinta itu akhirnya membawa rasa kebersamaan dalam lara, dam penderitaan dan ujian yang membuat hati menghiba. Ketika cinta itu akhirnya menumbuhkan kesetiaan yang tak terkira, ketika cinta itu mampu menafsir kedipan mata kekasih jiwa, bahkan setetes air mata kekasih sebagai tafsir bahasa jiwa yang penuh rona. Ketika cinta melahirkan kekuatan bertahan dari prinsip, bertahan untuk tetap sabar, ketika cinta membawa energy ketaaatan dan ketundukan. Kepasrahan dan kebersandaran. Ketika cinta (akhirnya) bertasbih, mentasbihkan sang Pemilik Jiwa Cinta, Al-Waduud.
Itulah sebab musababnya kenapa Allah SWT sesungguhnya DZat Yang Maha Pecinta (al-waduud). Ketika Dia menyapa dalam bahasa cinta; qul yaa ibaadii (katakanlah: Wahai hambaku…). Janganlah kalian berputus asa dari RahmatKu. Ketika Allah tak pernah menyia-nyiakan setiap amal hambaNya, itupun bukti cinta. Allah menguji manusia dengan kehendak Cinta-Nya agar daun-daun kekhilafan ini berguguran, agar harta-harta yang tergenggam jadi tersucikan, agar jiwa-jiwa kembali dalam kefitrahan, agar keyakinan tentang makna perjuangan itu semakin terkokohkan. Itulah rahasianya. Seorang hamba yang meneteskan air mata dalam keheningan munajatnya bahkan Allah sampai mengatakan bahwa dialah yang kelak akan mendapatkan pertolongan-Ku. Allah tak ‘membiarkan’ tetesan-tetesan air mata itu sebab tetesan itu punya makna; makna penyesalan, makna ketundukan, makna ketenangan (karena hanya pada-Nya-lah hidup ini diserahkan. Bahkan jika Allah berkehendak, setetes air mata keinsyafan akan menjadi syafaat status hamba, menjadikan air mata sebagai wasilah ridha Allah untuk memadamkan kilatan-kilatan siksa.
Itulah keajaibannya. Cinta melipat-lipatkan kemampuan jiwa untuk care (member perhatian), semacam keinginan menggelora agar sang kekasih selalu dalam keadaan baik, bahagia dan tentram karenanya. Melipat-lipatkan agar jiwa memiliki amaliyah mutakamilah (kerja totalitas antara gagasan,emosi jiwa dan tindakan nyata). Cinta sebagai spirit dan gagasan, emosi dan tindakan; gagasan tentang bagaimana membuat yang dicintai menjadi tumbuh berkembang lebih baik dan bahagia karenanya. Cinta tidak hanya getaran emosi melankolik tapi butuh pembuktian. Mencintai berarti merindui…, karena itulah buktinya. Seperti saat Ramadhan ini, munajat kerinduannya adalah; Waballighna ilaa RAMADHAN. Waballighna (Ya Allah, pertemukan/sampaikan kami di Bulan Ramadhan…) waballighna adalah ungkapan kerinduan. Merindu-nya berarti mencintai-nya.
“…pabila cinta memanggilmu…
ikutilah dia walau jalannya berliku-liku…
Dan, pabila sayapnya merangkummu…
pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi
di sela sayap itu melukaimu…”
(Kahlil Gibran)
Mencintai Ramadhan, adalah mencintai setiap seluk lekuk kepribadian Ramadhan. Bertabur keberkahan. Berhias pesona. Berbingkai kesabaran. Bernaung di bawahnya keyakinan akan kemurahannya disana ada gelombang-gelombang pengguguran dosa. Disana ada pintu Ar-Rayyan yang terbuka. Pintu Rahmah dan maghfirah. Beratnya menghias pesona Ramadhan akan melahirkan lipatan-lipatan kekuatan untuk menghidupinya dengan cinta. Bila yang didapat adalan penggalan episode kepedihan dan penderitaan, maka cinta menjadi penawarnya sebagai kekuatan penyadaran jiwa menjadi pesona Ramadhan yang menentramkan. Tak ada kegalauan dan kegamangan, sebab cinta hanya mengenal membahagiakan kekasih jiwa. Cinta melipatkan kekuatan-kekuatan yang terserak. Cinta memang ada di dalamnya; seribu satu keajaiban.


Dikirim pada 28 Juli 2010 di Akhwat Zone


Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Cantik !
Apakah jodoh itu hanya milik seseorang yang cantik? kali ini pembahasan hanya disoroti pada perempuan karena jumlah perempuan yang makin banyak yang belum menikah. Hmmm...rasanya tidak, sebab tiap manusia yang lahir ia sudah digariskan gendernya, jodohnya, rizqinya dan matinya. Namun kenapa fenomena yang sering kutemui adalah yang wajahnya "rata-rata ke bawah" sulit atau mungkin lama sekali mereka menemukan jodohnya...

Alhamdulillah aku sudah menikah. Aku merasa bukan karena cantik aku bisa lebih dulu dibanding teman-temanku, namun karena doa yang rajin kupanjatkan juga restu orang tua yang mendukung anaknya menikah cepat, kalaupun suamiku menikahiku karena juga merasa aku cantik semoga karena kecantikan jiwa yang lebih menonjol daripada kecantikan raga.

Pada dasarnya fitrah memang jika laki-laki ingin istri yang cantik, namun bukankah seperti sabda Rasulullah bahwa perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, nasabnya, kekayaannya dan agamanya; sedang yang mendahulukan pertimbangan agamanya maka ia akan beruntung dunia akhirat.

tak sedikit pula aku mendapat request untuk membantu mencarikan akhwat (perempuan) yang cantik sebagai kriteria pertamanya. Tak ada yang menjadikan kriteria penghafal quran, penulis handal, anak pertama yang jadi tulang punggung keluarga misalnya sebagai kriteria pertama...Hmmm jika seperti ini maka bagaimanakah nasib saudara perempuan kita yang "ga" cantik secara fisik..?

haruskah kita membiarkan saudara2 perempuan kita yang "kurang beruntung" sebagai antrian terakhir dari daftar akhwat yang pingin nikah?? Padahal ada banyak akhwat yang siap nikah, sedang ternyata ikhwannya bingung pilih-pilih.. ah, andai aku jadi murobi para ikhwan akan ku minta mereka memilih biodata dengan menutup mata sehingga tidak akan melihat kecantikan foto sebagai tolok ukur pertamanya...!









Dikirim pada 28 Juli 2010 di Akhwat Zone


Normal
0
false
false
false
EN-US
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Kala hati gundah dan perlu tersiram hujan, sms teman2 inilah yang membuat hati kembali hijau berseri..

"Rasa sakit akan membuatmu lebih kuat, rasa nyeri akan menyadarkanmu bahwa jalan kadang berbatu, rasa malu akan membuatmu mengerti bahwa kau perlu berkaca pada saudaramu jika suatu hari kau lakukan kesalahan. Maka saat itulah kesempatan saudaramu untuk menjadi penolongmu dan saat terbaik memulai perbaikan dirimu..." (TWH, 300707)

"Hidup itu selalu ada harapan dalam keyakinan......selalu ada keteguhan dalam kesabaran........selalu ada hikmah dalam kesyukuran......n selalu ada doa untuk saudaraQ tersayang..." (QV2n, 240108)

"iNdahnya persaudaraan adalah saat memberi tak berbalas...da sapa dalam sedih....da doa dalam tangis.....da makna dalam setiap kata....da dukungan saat diri mulai goyah...." (Riz, 07)

"tak ada kata seindah nasihat dan doa yang terlantun dari shabat sejati...walau terbentang jarak namun hatis elalu bertaut..Keep on the ALLAHís way, sist.." (End, 0208)

"resapi sebuah perkenalan karena di situ ada kenangan....
syukuri sebuah hubungan karena ada kerinduan...
hargai sebuah persaudaraan karena itu tali persaudaraan.." (ind, 02028)

"wafer said to chocolate, "We are knowed as the sweetiest, arenít we..?"
Chocolate said "u think that we are the sweetiest..?..Hmm please look at here, the people who read this message is the sweetiest one..." (Riz, 02028)


Dikirim pada 23 Juli 2010 di Akhwat Zone
Awal « 2 3 4 5 » Akhir


connect with ABATASA